Selat Hormuz Memanas Lagi, Apa Dampaknya bagi Harga Minyak dan Ekonomi Indonesia?

Selat Hormuz kembali memanas setelah serangan AS ke Iran. Harga Brent mendekati US$90 per barel. Apa dampaknya bagi BBM dan ekonomi Indonesia?

Selat Hormuz Memanas Lagi, Apa Dampaknya bagi Harga Minyak dan Ekonomi Indonesia?
Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga minyak global. (ilustrasi : Frame Daily)

Frame Daily, Jakarta - Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Amerika Serikat menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026). Iran kemudian merespons dengan serangan terhadap pangkalan Amerika Serikat di Yordania, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur energi utama dunia. 

Pasar minyak langsung bereaksi. Harga minyak mentah Brent sempat naik lebih dari 2% hingga mencapai US$90,32 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$85,41 per barel. Pada perdagangan berikutnya, Brent masih bergerak di sekitar US$89 per barel. 

Mengapa Selat Hormuz Penting?

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling penting dalam perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut. 

Karena itu, risiko terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat langsung masuk ke perhitungan harga minyak. Bukan hanya kerusakan fasilitas produksi yang menjadi perhatian, tetapi juga kemungkinan kapal tanker memperlambat atau menghindari jalur tersebut karena faktor keamanan.

Risiko itu sudah terlihat dalam data pelayaran. Reuters melaporkan hanya lima kapal komoditas yang melintas Selat Hormuz pada 25 Agustus, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal. Kondisi tersebut menunjukkan pelaku industri masih berhati-hati meski lalu lintas di kawasan sempat membaik. 

Harga Minyak Kembali Mendapat Premi Risiko

Kenaikan Brent ke sekitar US$90 per barel menunjukkan pasar kembali memasukkan geopolitical risk premium ke dalam harga minyak. Investor tidak hanya memperhitungkan pasokan minyak yang tersedia saat ini, tetapi juga kemungkinan gangguan jika konflik AS-Iran kembali meluas.

Situasinya menjadi penting karena harga minyak Indonesia sebelumnya justru mulai turun setelah ketegangan di Timur Tengah mereda. Kementerian ESDM mencatat harga rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) Juli 2026 berada di US$81,68 per barel, turun dari US$83,45 pada Juni. Pemerintah menyebut membaiknya lalu lintas di Selat Hormuz dan pulihnya pasokan global ikut menekan harga. 

Artinya, eskalasi terbaru berpotensi membalikkan sebagian tren tersebut apabila berlangsung lebih lama. Namun, kenaikan Brent ke US$90 belum otomatis berarti harga BBM Indonesia langsung naik karena dampaknya juga bergantung pada durasi kenaikan harga, nilai tukar rupiah, kebijakan pemerintah, serta mekanisme penetapan harga BBM.

Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

Indonesia memiliki eksposur terhadap kawasan Timur Tengah meski tidak seluruh kebutuhan minyak mentah nasional berasal dari wilayah tersebut. Menteri ESDM sebelumnya menyebut sekitar 20–25% kebutuhan minyak mentah Indonesia masih dipenuhi dari kawasan Teluk Persia, sementara sekitar 30% kebutuhan LPG berasal dari Timur Tengah. 

Data impor 2025 juga menunjukkan Arab Saudi menjadi salah satu pemasok utama minyak mentah Indonesia dengan volume sekitar 3,19 juta ton atau 18,1% dari total impor minyak mentah. Di sisi lain, Nigeria dan Angola secara bersama-sama menyumbang sekitar 47%, sehingga sumber pasokan Indonesia sebenarnya cukup terdiversifikasi. 

Karena itu, dampak pertama yang perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah Indonesia kehabisan minyak, melainkan berapa mahal biaya mendapatkan dan mengangkut energi tersebut. Jika harga minyak dunia dan ongkos pengiriman meningkat dalam waktu lama, tekanan dapat merambat ke biaya BBM, transportasi, logistik hingga industri.

APBN Ikut Terpengaruh

Kenaikan harga minyak juga memiliki konsekuensi terhadap keuangan negara. Pemerintah menggunakan ICP sebagai salah satu parameter penting dalam pengelolaan fiskal dan sektor energi.

Analisis Kementerian Keuangan menunjukkan perubahan harga minyak dan nilai tukar dapat memengaruhi pendapatan sekaligus belanja negara. Dalam simulasi APBN 2026, kenaikan ICP US$1 per barel diperkirakan meningkatkan pendapatan sekitar Rp3,5 triliun, tetapi juga meningkatkan belanja sekitar Rp10,3 triliun sehingga defisit berpotensi melebar sekitar Rp6,8 triliun. 

Dampaknya tidak berhenti pada angka APBN. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya distribusi dan produksi, sementara pelemahan rupiah dapat membuat biaya impor energi semakin mahal.

Yang Perlu Dipantau Berikutnya

Untuk Indonesia, perkembangan paling penting bukan hanya seberapa tinggi Brent bergerak dalam satu atau dua hari perdagangan. Durasi gangguan dan kondisi lalu lintas kapal di Selat Hormuz akan jauh lebih menentukan.

Jika ketegangan kembali mereda dan kapal tanker dapat melintas secara normal, premi risiko minyak berpotensi turun. Sebaliknya, apabila serangan berlanjut atau jalur pelayaran kembali terganggu secara signifikan, tekanan terhadap harga minyak dan biaya energi global dapat menjadi lebih besar. 

Dengan kata lain, Brent US$90 per barel saat ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal meningkatnya risiko daripada kepastian bahwa harga BBM Indonesia akan segera melonjak. Yang menentukan adalah apakah ketegangan di Selat Hormuz berubah menjadi gangguan pasokan energi yang berlangsung lama.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar