Frame Daily, Jakarta – Safari politik Jokowi hari ini kembali menjadi perhatian publik setelah mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo melanjutkan rangkaian kunjungannya ke berbagai daerah. Di tengah agenda tersebut, muncul sorotan dari mantan penasihat spiritual Jokowi, Sri Eko Srianto Galgendu atau Eko Lemu, terkait prosesi adat menginjak kepala kerbau saat Jokowi menerima gelar kehormatan Baginda Pemuka Bangsa dari lima kerajaan adat Lampung.
Rangkaian Safari politik Jokowi hari ini tidak hanya menjadi agenda silaturahmi dengan masyarakat dan kader partai, tetapi juga memunculkan diskusi mengenai makna simbol adat yang digunakan dalam prosesi pemberian gelar. Eko Lemu mengingatkan agar ritual tersebut tidak dipahami sebatas seremoni, melainkan sebagai simbol yang mengandung nilai moral dan tanggung jawab bagi penerimanya.
Dalam Safari politik Jokowi hari ini, Jokowi menerima gelar adat saat berkunjung ke Lampung pada 26–28 Juni 2026. Prosesi tersebut diwarnai ritual menginjak kepala kerbau yang merupakan bagian dari tradisi adat setempat. Menurut Eko Lemu, simbol tersebut memiliki filosofi penyucian diri yang tidak boleh dipisahkan dari nilai kejujuran, keikhlasan, dan tanggung jawab moral.
Sorotan terhadap Safari politik Jokowi hari ini juga muncul karena pemberian gelar adat berlangsung di tengah rangkaian kunjungan politik mantan kepala negara itu ke sejumlah daerah. Kegiatan tersebut mencakup pertemuan dengan masyarakat, relawan, tokoh adat, pelaku UMKM, serta pengurus partai politik.
Topik Safari politik Jokowi hari ini semakin mendapat perhatian setelah Eko Lemu menyampaikan pandangannya dalam podcast Forum Keadilan TV, Rabu (1/7/2026). Ia mengingatkan bahwa penggunaan simbol-simbol adat untuk kepentingan yang tidak selaras dengan nilai-nilai tradisi dapat membawa konsekuensi moral bagi pihak yang menjalani prosesi tersebut.
Safari Politik Diwarnai Pemberian Gelar Adat
Safari politik Jokowi dimulai dari Provinsi Lampung sebagai rangkaian kunjungan selama tiga hari. Dalam agenda tersebut, Jokowi menghadiri berbagai kegiatan bersama masyarakat, termasuk menerima gelar kehormatan Baginda Pemuka Bangsa dari lima kerajaan adat Lampung.
Juru Bicara Jokowi, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah, sebelumnya menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari silaturahmi dengan masyarakat dan memenuhi sejumlah undangan dari berbagai daerah. Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, juga turut mendampingi Jokowi dalam sebagian agenda di Lampung, termasuk menghadiri kegiatan Rakorda DPD PSI Mesuji. Informasi tersebut telah dikonfirmasi kepada sejumlah media nasional.
Dalam kunjungan tersebut, Jokowi juga menyambangi sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), berdialog dengan warga, serta bertemu tokoh masyarakat dan tokoh adat. Agenda itu menjadi pembuka dari rangkaian safari politik yang direncanakan berlanjut ke sejumlah provinsi lain.
Eko Lemu Ingatkan Makna Filosofis Ritual
Menanggapi prosesi adat di Lampung, Eko Lemu mengingatkan bahwa simbol menginjak kepala kerbau tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai luhur yang diwariskan dalam tradisi adat.
"Nilai dari simbolisasi kepala kerbau adalah penyucian diri. Artinya kejujuran, keikhlasan, dan kesucian. Kalau kemudian itu ditunggangi kepentingan yang tidak ikhlas, tidak benar, sewaktu disimbolkan Pak Jokowi menginjak kepala kerbau, itu bisa menjadi permasalahan yang menghantam dirinya sendiri," kata Eko dalam podcast Forum Keadilan TV, Rabu (1/7/2026).
Menurut Eko, simbol adat tidak boleh diperlakukan sebagai pelengkap acara semata. Ia menilai setiap prosesi adat memiliki konsekuensi moral bagi siapa pun yang menerima penghormatan tersebut.
"Jangan kemudian bermain-main dengan hal yang menyangkut nilai-nilai adat dan tradisi yang disakralkan," ujarnya.
Ia juga menyebut masyarakat perlu memahami bahwa penghormatan adat mengandung amanah yang harus dijaga melalui sikap dan tindakan penerimanya.
Kepemimpinan Dinilai Bukan Sekadar Gelar
Dalam kesempatan yang sama, Eko menguraikan pandangannya mengenai filosofi seorang baginda atau raja. Menurutnya, gelar tersebut bukan sekadar bentuk penghormatan, melainkan amanah besar untuk mengutamakan kepentingan rakyat.
"Yang harus dimuliakan adalah masyarakat, bangsa, dan negaranya, bukan anak-anaknya," kata Eko.
Ia menambahkan ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak ditentukan oleh keberhasilan keluarganya, melainkan oleh kemampuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Bagi seorang raja, kemiskinan rakyat adalah kemiskinan dirinya. Kebodohan rakyat adalah kebodohan dirinya," ujarnya.
Eko juga menilai seorang pemimpin yang ingin mewariskan kepemimpinan kepada generasi berikutnya sepatutnya mengedepankan kebijaksanaan dan kepentingan bangsa.
"Kalau ingin meneruskan kepemimpinan kepada pewarisnya, harus penuh kebijakan, berbesar hati, bahkan kadang mau mengalah," katanya.
Agenda Safari Masih Berlanjut
Di luar polemik mengenai prosesi adat, rangkaian safari politik Jokowi masih berlangsung sebagai agenda silaturahmi dengan masyarakat di berbagai daerah. Tim pendamping Jokowi menyebut kunjungan tersebut dilakukan untuk memenuhi undangan dari relawan, tokoh masyarakat, organisasi, dan kader partai politik.
Sejumlah pihak juga memberikan tanggapan terhadap aktivitas tersebut. Partai Gerindra, misalnya, menyatakan menghormati kegiatan Jokowi sebagai mantan presiden dan menilai kunjungan tersebut merupakan bagian dari komunikasi dengan masyarakat selama dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Hingga awal Juli 2026, agenda lanjutan safari politik Jokowi masih disusun menyesuaikan undangan dari berbagai daerah. Di sisi lain, pernyataan Eko Lemu mengenai makna filosofis prosesi adat di Lampung menambah perhatian publik terhadap rangkaian kunjungan tersebut. Sampai saat ini belum ada tanggapan resmi dari pihak Jokowi terkait pandangan yang disampaikan Eko Lemu dalam podcast Forum Keadilan TV.
Komentar