Program MBG Serap 148 Ribu Pemasok Pangan Lokal

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memperluas dampaknya terhadap perekonomian daerah. Hingga kini, sebanyak 148 ribu pemasok pangan lokal, mulai dari BUMDes, koperasi desa, kelompok tani, peternak, hingga pelaku UMKM, telah terlibat dalam memenuhi kebutuhan program tersebut.

Program MBG Serap 148 Ribu Pemasok Pangan Lokal
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Frame Daily)

Frame Daily, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memperkuat perannya sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Hingga saat ini, program tersebut telah melibatkan sekitar 148 ribu pemasok pangan lokal yang berasal dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), kelompok tani, kelompok peternak, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan keterlibatan pemasok lokal menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi hasil produksi masyarakat.

"Saat ini, Program MBG telah melibatkan sekitar 148 ribu pemasok yang terdiri dari BUMDes, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, kelompok tani, kelompok peternak, dan pelaku UMKM," kata Zulkifli Hasan dalam Dialog Masyarakat Sipil untuk Ketahanan Pangan dan Kelestarian Lingkungan di Wonosobo, Jawa Tengah, Senin.

Pangan Lokal Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Menurut Zulkifli Hasan, Indonesia memiliki potensi pangan lokal yang sangat beragam dan perlu terus dikembangkan agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Pemerintah karena itu mendorong agar hasil produksi petani, peternak, dan UMKM dapat terserap melalui Program MBG maupun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Ia menilai langkah tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan melalui peningkatan permintaan terhadap komoditas lokal.

"Pangan lokal harus menjadi kekuatan ekonomi desa. Karena itu, pemerintah mendorong agar hasil produksi masyarakat dapat terserap oleh Program MBG dan KDMP sehingga manfaatnya langsung dirasakan petani, peternak, dan pelaku UMKM," ujarnya.

Sinergi MBG dan Koperasi Desa Merah Putih

Pemerintah terus memperkuat kolaborasi antara Program MBG dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih guna membangun rantai pasok pangan nasional yang lebih kuat. Melalui sinergi tersebut, kebutuhan bahan baku program diharapkan semakin banyak dipenuhi dari hasil produksi lokal.

Selain memperluas pasar bagi komoditas pangan, kebijakan ini juga diharapkan meningkatkan pendapatan masyarakat desa sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Zulkifli Hasan menegaskan bahwa keberhasilan ketahanan pangan juga bergantung pada keberlanjutan sumber daya alam.

"Ketersediaan air, tanah yang subur, dan ekosistem yang terjaga merupakan modal utama bagi keberlanjutan produksi pangan nasional," katanya.

Perputaran Ekonomi Mencapai Triliunan Rupiah

Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat Program MBG mulai memberikan dampak ekonomi yang signifikan di berbagai daerah. Di Jawa Barat, misalnya, keberadaan sekitar 6.200 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diperkirakan menghasilkan perputaran dana hingga Rp6 triliun setiap bulan.

BGN juga mencatat sekitar 70 persen anggaran setiap SPPG digunakan untuk membeli bahan baku pangan, sementara sekitar 95 persen bahan baku tersebut berasal dari produk pertanian, peternakan, dan perikanan lokal.

Skema tersebut diharapkan mampu menciptakan pasar yang berkelanjutan bagi hasil produksi masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian desa melalui peningkatan aktivitas usaha di sektor pangan.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar