Penumpang TransJakarta Tembus 32 Juta, Tapi Halte Padat dan Antrean Panjang Masih Jadi Keluhan

Penumpang TransJakarta Tembus 32 Juta, Tapi Halte Padat dan Antrean Panjang Masih Jadi Keluhan
Bus Transjakarta melintas di Jalan Jenderal Sudirman (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Frame Daily, Jakarta - Jumlah pengguna TransJakarta terus mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2026. Namun di balik lonjakan penumpang yang mencapai lebih dari 32 juta orang, persoalan kepadatan halte hingga antrean panjang saat jam sibuk masih menjadi keluhan masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat jumlah penumpang TransJakarta pada Maret 2026 mencapai 32,13 juta orang atau naik 7,67 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut menunjukkan semakin banyak warga mulai beralih menggunakan transportasi publik di tengah tingginya biaya mobilitas perkotaan.

Halte Transit Masih Dipadati Penumpang

Meski jumlah pengguna meningkat, kondisi di sejumlah halte transit utama masih kerap dipenuhi antrean penumpang, terutama pada pagi dan sore hari.

Pantauan di beberapa titik seperti Harmoni, Dukuh Atas, Kampung Melayu, dan Blok M menunjukkan kepadatan penumpang masih terjadi saat jam sibuk.

Perpindahan antar koridor juga menjadi titik paling padat. Penumpang terlihat harus mengantre cukup panjang untuk masuk ke area halte maupun menunggu bus datang.

Sejumlah pengguna mengaku kondisi halte sering terasa sesak ketika armada datang dalam kondisi penuh.

“Kalau jam pulang kerja memang sering padat. Kadang harus nunggu beberapa bus dulu baru bisa masuk,” ujar salah satu pengguna TransJakarta di kawasan Harmoni.

Ledakan Diduga Berasal dari Tabung Gas Terjadi di Tambora, Lima Orang TerlukaFrame Daily
Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

Waktu Tunggu Bus Masih Dikeluhkan

Selain kepadatan halte, pengguna juga menyoroti waktu tunggu bus yang dinilai belum sepenuhnya stabil pada koridor tertentu. Pada jam sibuk, beberapa bus datang dalam kondisi sudah penuh sehingga penumpang harus menunggu armada berikutnya.

Kondisi tersebut membuat antrean di halte semakin panjang, terutama di jalur dengan mobilitas tinggi. Meski TransJakarta telah mengoperasikan sekitar 4.792 unit armada aktif, lonjakan jumlah penumpang dinilai mulai memberi tekanan pada kapasitas layanan di sejumlah titik.

Warga Beralih ke Transportasi Publik karena Faktor Ekonomi

Peningkatan jumlah pengguna transportasi publik juga disebut dipengaruhi faktor ekonomi. Di tengah kenaikan biaya bahan bakar, parkir, dan kemacetan Jakarta yang semakin padat, banyak warga mulai memilih transportasi umum untuk menekan pengeluaran harian.

Namun di sisi lain, lonjakan pengguna membuat tantangan pelayanan ikut meningkat, terutama terkait kenyamanan dan kapasitas saat jam sibuk.

TransJakarta Hadapi Tantangan Baru

Sejumlah pengamat transportasi menilai peningkatan jumlah pengguna merupakan sinyal positif bagi transportasi publik Jakarta.

Namun mereka mengingatkan kualitas layanan tetap harus dijaga agar masyarakat tidak kembali beralih ke kendaraan pribadi.

Selain penambahan armada, pembenahan halte transit dan pengaturan headway bus dinilai penting untuk mengurangi kepadatan penumpang pada jam sibuk.

TransJakarta kini tidak hanya dituntut meningkatkan jumlah pengguna, tetapi juga memastikan pengalaman perjalanan tetap nyaman dan efisien di tengah mobilitas tinggi warga ibu kota.

Ditulis oleh SA

Komentar