Mobil Listrik Terbakar Usai Kecelakaan, Mengapa Baterai EV Sulit Dipadamkan?

Mobil listrik terbakar setelah mengalami kecelakaan dan menabrak separator busway di Jakarta Barat, Jumat pagi. Penyebab teknis kebakaran masih perlu dipastikan, tetapi jika baterai lithium-ion mengalami thermal runaway, kebakaran dapat membutuhkan penanganan khusus dan berisiko menyala kembali.

Mobil Listrik Terbakar Usai Kecelakaan, Mengapa Baterai EV Sulit Dipadamkan?
Kebakaran kendaraan listrik dapat membutuhkan penanganan khusus apabila baterai mengalami thermal runaway. Penyebab teknis kebakaran mobil listrik setelah kecelakaan di Jakarta Barat masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. (Ilustrasi/AI/framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta - Sebuah mobil listrik terbakar setelah mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Letjen S. Parman, Jakarta Barat, Jumat (11/9/2026) pagi.

Berdasarkan keterangan petugas yang diberitakan sejumlah media, kendaraan tersebut melaju di Jalan Letjen S. Parman sebelum pengemudi diduga kehilangan kendali dan menabrak separator jalur TransJakarta sekitar pukul 05.04 WIB.

Setelah benturan, muncul percikan api yang kemudian membesar hingga membakar kendaraan. Pengemudi dilaporkan berhasil keluar dari mobil dan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Petugas pemadam kebakaran kemudian melakukan penanganan hingga api berhasil dikendalikan. Proses pemadaman dilaporkan selesai sekitar pukul 06.18 WIB.

Insiden tersebut kembali menarik perhatian terhadap salah satu tantangan dalam penanganan kendaraan listrik: apa yang terjadi jika baterai bertegangan tinggi ikut mengalami kerusakan dan terbakar?

Penting dicatat, belum tepat menyimpulkan bahwa baterai menjadi penyebab awal kebakaran dalam kecelakaan di Jakarta tersebut. Penjelasan mengenai baterai dalam artikel ini merupakan konteks mengenai karakter kebakaran kendaraan listrik apabila baterai lithium-ion mengalami kerusakan serius.

Mengapa Baterai EV Bisa Sulit Dipadamkan?

Mobil listrik umumnya menggunakan paket baterai yang tersusun dari banyak sel. Dalam kondisi tertentu, kerusakan berat pada sel lithium-ion dapat memicu fenomena yang dikenal sebagai thermal runaway.

Secara sederhana, thermal runaway merupakan kondisi ketika suhu sebuah sel meningkat dan memicu reaksi yang menghasilkan panas lebih lanjut. Jika panas tersebut merambat ke sel di sebelahnya, reaksi dapat berkembang menjadi rangkaian yang semakin sulit dikendalikan.

Inilah yang membedakan penanganannya dari sekadar memadamkan api yang terlihat di permukaan kendaraan.

Ketika baterai benar-benar terlibat, petugas juga perlu menurunkan temperatur baterai agar panas tidak terus menyebar di antara sel-selnya. Dalam kondisi tertentu, proses pendinginan dapat membutuhkan air dalam jumlah besar dan berlangsung lebih lama.

Namun, tidak setiap kecelakaan mobil listrik otomatis menyebabkan thermal runaway. Tingkat kerusakan baterai, lokasi benturan, desain sistem perlindungan baterai, dan berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi apa yang terjadi setelah kecelakaan.

Api Terlihat Padam, Mengapa Bisa Menyala Kembali?

Tantangan lain dalam kebakaran baterai lithium-ion adalah kemungkinan re-ignition atau penyalaan kembali.

Api di luar kendaraan bisa saja sudah tidak terlihat, sementara bagian tertentu dari baterai masih memiliki temperatur tinggi. Apabila reaksi di dalam sel belum berhenti sepenuhnya, panas dapat kembali memicu kebakaran.

Karena alasan tersebut, kendaraan listrik dengan baterai yang mengalami kerusakan berat dapat memerlukan pemantauan setelah proses pemadaman.

Asap dari baterai yang terbakar juga harus diperlakukan dengan hati-hati karena proses kerusakan baterai lithium-ion dapat menghasilkan campuran gas dan material berbahaya. Petugas pemadam karena itu menggunakan perlengkapan perlindungan ketika menangani kebakaran kendaraan.

Apakah Berarti Mobil Listrik Lebih Mudah Terbakar?

Tidak dapat disimpulkan demikian hanya berdasarkan insiden ini.

Peristiwa satu kendaraan terbakar setelah kecelakaan tidak cukup untuk menentukan apakah kendaraan listrik secara umum memiliki risiko kebakaran lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan kendaraan dengan mesin pembakaran internal.

Hal yang menjadi perhatian adalah karakter kebakarannya ketika baterai lithium-ion benar-benar terlibat.

Baterai bertegangan tinggi dapat menghadirkan tantangan berupa penyebaran panas antarsel, kebutuhan pendinginan yang intensif, kemungkinan penyalaan kembali, serta risiko paparan gas hasil pembakaran.

Dalam kasus Jakarta Barat, fakta yang dapat dipastikan saat ini adalah kendaraan mengalami kecelakaan, menabrak separator, kemudian terbakar.

Apa yang secara teknis pertama kali memicu kebakaran dan apakah baterai bertegangan tinggi kendaraan ikut mengalami thermal runaway memerlukan pemeriksaan teknis lebih lanjut.

Dengan demikian, kasus ini dapat menjadi pengingat mengenai tantangan penanganan kecelakaan kendaraan listrik tanpa mendahului hasil investigasi mengenai penyebab kebakaran.

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar