Frame Daily, Jakarta - Penanganan kesehatan menjadi salah satu perhatian penting setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Memasuki hari ketujuh pascagempa, lebih dari 110.785 warga masih mengungsi di berbagai wilayah terdampak. Berdasarkan pembaruan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB, gempa tersebut telah menyebabkan 83 orang meninggal dunia dan 986 orang luka-luka.
BNPB juga mencatat sebanyak 4.258 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Sementara kerusakan rumah mencapai 45.006 unit.
Besarnya jumlah warga yang masih berada di pengungsian membuat persoalan kesehatan perlu mendapat perhatian serius, terutama jika kondisi pengungsian berlangsung dalam waktu cukup lama.
Kepadatan Pengungsian Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit
Lokasi pengungsian mempertemukan banyak orang dalam ruang yang relatif terbatas. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama penyakit yang menyerang saluran pernapasan.
Kementerian Kesehatan sebelumnya mencatat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan infeksi kulit sebagai masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada situasi pengungsian pascabencana.
Dalam penanganan bencana di Aceh Tamiang, Kemenkes menjelaskan bahwa kondisi lingkungan, sanitasi yang belum optimal, serta kepadatan lokasi pengungsian berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit tersebut.
Karena itu, masyarakat yang berada di pengungsian perlu memperhatikan kebersihan diri, menjaga ventilasi ruang, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami gejala infeksi.
Diare dan Masalah Air Bersih
Ketersediaan air bersih menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah penyakit di lokasi pengungsian.
Air yang tidak aman untuk diminum atau digunakan untuk memasak dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pencernaan, termasuk diare.
Selain kualitas air, kebersihan makanan juga perlu diperhatikan. Makanan yang disimpan terlalu lama, tidak terlindung dari debu dan lalat, atau tidak diolah dengan baik dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
BNPB menyebut pemerintah terus memperkuat distribusi bantuan, termasuk kebutuhan air bersih bagi wilayah terdampak gempa. Dalam pembaruan 21 Agustus, BNPB juga melaporkan pengerahan dukungan untuk kebutuhan air bersih di Ende, Nagekeo, dan Sikka.

Penyakit Kulit Juga Perlu Diwaspadai
Keterbatasan fasilitas mandi, air bersih, pakaian bersih, serta kondisi lingkungan yang padat dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kulit.
Kemenkes mencatat infeksi kulit termasuk salah satu masalah kesehatan yang ditemukan di lokasi pengungsian pascabencana.
Keluhan seperti gatal, ruam, kemerahan atau luka pada kulit sebaiknya tidak diabaikan, terutama apabila keluhan semakin luas, disertai demam, atau terjadi pada bayi dan anak-anak.
Anak dan Lansia Menjadi Kelompok Rentan
Perhatian khusus juga diperlukan bagi kelompok rentan, seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis.
Dalam kondisi bencana, kelompok tersebut dapat lebih mudah mengalami gangguan kesehatan karena perubahan lingkungan, keterbatasan akses obat, pola makan yang berubah, hingga tekanan psikologis.
Kemenkes menekankan bahwa pasien dengan penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan asma tetap membutuhkan keberlanjutan pengobatan selama berada dalam situasi darurat.
Artinya, pengungsian bukan hanya membutuhkan obat untuk penyakit akut. Ketersediaan obat rutin bagi pasien penyakit kronis juga menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan.
Kesehatan Mental Jangan Diabaikan
Selain penyakit fisik, dampak psikologis setelah bencana juga perlu menjadi perhatian.
Gempa bumi dengan korban jiwa, kerusakan rumah, kehilangan anggota keluarga, serta ketidakpastian mengenai tempat tinggal dapat menimbulkan trauma dan tekanan psikologis.
Kondisi tersebut dapat muncul dalam bentuk sulit tidur, rasa takut berlebihan, kecemasan, mudah panik, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan perilaku pada anak.
Pendampingan psikososial menjadi bagian penting dalam pemulihan, terutama bagi anak-anak yang mengalami langsung guncangan dan kehilangan lingkungan tempat tinggal mereka.
Pos Kesehatan Menjadi Garda Terdepan
Pemerintah telah memperkuat layanan kesehatan di sejumlah titik pengungsian.
BNPB melaporkan bahwa pos-pos kesehatan telah diaktifkan di berbagai lokasi. Salah satunya berada di Desa Pota, Kecamatan Sambi Rampas, yang melayani sekitar 90 hingga 120 pasien setiap hari.
Untuk memperkuat layanan medis, KRI Suharso 990 juga telah disiapkan sebagai dukungan kesehatan dengan kemampuan operasi besar dan kapasitas rawat inap hingga 75 pasien.
Langkah tersebut penting untuk memastikan warga tidak hanya mendapatkan bantuan logistik, tetapi juga pemeriksaan dan pengobatan ketika mengalami keluhan kesehatan.
Apa yang Bisa Dilakukan Warga di Pengungsian?
Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit.
Pertama, pastikan air minum berasal dari sumber yang aman. Kedua, cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Ketiga, jaga kebersihan makanan serta peralatan makan.
Warga juga perlu menjaga kebersihan lingkungan sekitar tenda, membuang sampah pada tempatnya dan menggunakan fasilitas sanitasi yang tersedia.
Jika mengalami demam tinggi, sesak napas, diare berulang, muntah terus-menerus, gangguan kulit yang memburuk, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, warga sebaiknya segera mendatangi pos kesehatan.
Tantangan Kesehatan Belum Berakhir
Pemulihan pascagempa tidak berhenti ketika jalan, listrik, dan komunikasi mulai kembali normal.
BNPB melaporkan hingga 21 Agustus, sejumlah infrastruktur vital telah pulih, termasuk jaringan listrik dan sembilan ruas jalan nasional yang terdampak. Namun, lebih dari 110 ribu warga masih berada di pengungsian dan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan masyarakat masih menjadi bagian penting dari fase tanggap darurat.
Pengalaman penanganan bencana sebelumnya menunjukkan bahwa penyakit seperti ISPA, diare, dan infeksi kulit dapat menjadi masalah ketika kepadatan pengungsian, sanitasi, dan akses air bersih belum optimal.
Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan, memastikan air dan makanan aman, memperkuat layanan kesehatan serta memberikan dukungan psikologis menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya krisis kesehatan lanjutan di tengah proses pemulihan NTT.
Sumber: BNPB, Kementerian Kesehatan RI.
Catatan Redaksi:
Data korban, pengungsi, gempa susulan, kerusakan, dan layanan kesehatan dalam artikel ini mengacu pada pembaruan BNPB per Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB. Data dapat berubah mengikuti proses verifikasi dan pemutakhiran di lapangan.
Komentar