Frame Daily, Jakarta - Timur Tengah mungkin lebih sering muncul di layar masyarakat Indonesia melalui berita konflik, minyak, diplomasi, atau geopolitik. Selama tiga hari di Depok, Jawa Barat, kawasan tersebut diperkenalkan melalui wajah yang berbeda tarian, makanan, bahasa, busana, musik, dan interaksi budaya.
Festival Timur Tengah 2026 berlangsung pada 8–10 September 2026 di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Indonesia (UI), Depok. Mengusung tema Light and Pride, festival yang digerakkan mahasiswa Program Studi Arab UI itu menjadi ruang pertemuan budaya Indonesia dan Timur Tengah sekaligus melibatkan mahasiswa, akademisi, diplomat, dan masyarakat.
Pembukaan festival pada Selasa (8/9/2026) turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Duta Besar Kuwait untuk Indonesia Khalid Jassim Al-Yassin, serta perwakilan diplomatik Bahrain dan Mesir. Daya tarik festival tidak hanya terletak pada siapa yang hadir. Di sinilah pengunjung dapat melihat bagaimana budaya Indonesia dan Timur Tengah yang secara geografis terpisah ribuan kilometer dipertemukan dalam satu ruang.
Dari Saman hingga Tanoura Mesir
Pertemuan dua budaya terlihat sejak acara pembukaan. Tari Saman menjadi salah satu pertunjukan yang mewakili Indonesia. Setelah itu, panggung menghadirkan Tanoura, pertunjukan tradisional Mesir yang terkenal dengan gerakan berputar dan kostum berlapis berwarna-warni.
Dalam pertunjukan tersebut, penari Tanoura tidak hanya berada di panggung. Penari mendekati area penonton dan membawa pertunjukan lebih dekat dengan pengunjung. Menariknya, angklung juga menjadi bagian dari pembukaan festival. Menteri Agama bersama perwakilan diplomatik dan pimpinan UI memainkan alat musik bambu Indonesia tersebut untuk menandai pembukaan acara.
Pemandangan itu menjadi gambaran sederhana mengenai konsep festival bukan hanya Indonesia mempelajari Timur Tengah, tetapi budaya Indonesia juga diperkenalkan dalam perjumpaan tersebut. Selama tiga hari, agenda Festival Timur Tengah 2026 mencakup Indonesia Middle East Youth Summit, berbagai kompetisi, demonstrasi memasak, lomba makan kebab, pameran, peragaan busana, kegiatan anak, pertunjukan budaya, hingga bazar untuk masyarakat.
Pengunjung tidak harus memahami politik atau sejarah Timur Tengah terlebih dahulu untuk mengenal kawasan tersebut. Makanan, pakaian, tarian dan bahasa menjadi pintu masuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mengenal Timur Tengah di Luar Berita Konflik
Inilah sisi menarik Festival Timur Tengah untuk pembaca umum. Istilah Timur Tengah dalam pemberitaan internasional belakangan sangat lekat dengan konflik bersenjata, ketegangan geopolitik, minyak, dan hubungan antarnegara. Padahal kawasan itu juga terdiri dari masyarakat dengan tradisi kuliner, seni, sastra, bahasa dan identitas budaya yang beragam. Festival di UI mencoba menghadirkan dimensi tersebut.
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam pembukaan mengapresiasi Program Studi Arab UI karena menghadirkan kegiatan mengenai kebudayaan dan peradaban Arab serta Timur Tengah di universitas umum. Menurut Nasaruddin, kegiatan semacam ini lebih sering ditemukan di lingkungan perguruan tinggi keagamaan seperti Universitas Islam Negeri (UIN). Ia juga mendorong hubungan yang tercipta melalui kegiatan budaya tidak berhenti ketika festival selesai.
“Kerja sama seperti ini harus terus dilanjutkan demi menghidupkan budaya dan kemanusiaan,” kata Nasaruddin.
Duta Besar Kuwait Khalid Jassim Al-Yassin juga menyoroti moderasi dan toleransi sebagai nilai yang dapat diperkuat melalui kegiatan kebudayaan dan kerja sama internasional. Sementara Ketua Program Studi Arab FIB UI Gina Najjah melihat festival bukan semata pertunjukan budaya, tetapi juga ruang belajar bagi mahasiswa sekaligus tempat membangun hubungan dengan masyarakat dan komunitas internasional.
Festival Timur Tengah sendiri bukan kegiatan yang muncul pertama kali tahun ini. Akar kegiatan tersebut dapat ditelusuri setidaknya sejak sekitar 2009–2010, ketika mahasiswa Program Studi Arab UI mengembangkan ruang untuk mempelajari bahasa, seni dan masyarakat Timur Tengah. Pada Festival Timur Tengah 2023, misalnya, terdapat 234 peserta dalam 10 kategori kompetisi, mulai dari debat bahasa Arab, pembacaan puisi, storytelling, menyanyi, kaligrafi hingga membaca berita.
Catatan lain menunjukkan festival ini juga telah berlangsung pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2017, Festival Timur Tengah di UI bahkan menjadi ajang kompetisi nasional yang diikuti sejumlah perguruan tinggi Indonesia. Kini pada 2026, formatnya berkembang menjadi lebih luas. Bukan hanya kompetisi bahasa Arab, tetapi juga ruang untuk menikmati budaya, berdialog dan mempertemukan generasi muda Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah.
Festival Timur Tengah di Depok menawarkan perspektif yang berbeda. Di tengah dominasi kabar geopolitik dari kawasan tersebut, selama tiga hari pengunjung dapat melihat Timur Tengah melalui sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan manusia mulai dari makanan yang disantap, bahasa yang dituturkan, pakaian yang dikenakan, musik yang dimainkan, dan tarian yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Komentar