Frame Daily, Jakarta – Kemacetan masih menjadi persoalan yang menghantui mobilitas warga Jakarta setiap hari. Waktu tempuh yang semakin panjang, tingginya penggunaan kendaraan pribadi, hingga kepadatan di sejumlah ruas jalan mendorong pemerintah terus memperluas jaringan transportasi massal sebagai solusi jangka panjang.
Harapan itu kini datang dari pembangunan LRT Jakarta Fase 1B koridor Pegangsaan Dua–Manggarai yang telah memasuki tahap akhir. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengumumkan progres pembangunan telah mencapai 95 persen dan menargetkan jalur tersebut mulai beroperasi pada Agustus 2026.
Lebih dari sekadar menambah lintasan kereta, proyek ini diharapkan mampu mengubah pola mobilitas masyarakat dengan menghadirkan sistem transportasi yang terintegrasi, cepat, dan nyaman sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat berkurang.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pembangunan koridor tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat konektivitas transportasi publik di ibu kota.
"Kami berharap pada Agustus nanti LRT ini dapat diresmikan oleh Bapak Presiden. Ini akan menjadi milestone yang mengubah wajah Jakarta karena memperkuat konektivitas transportasi publik," ujar Pramono saat meninjau progres pembangunan LRT Jakarta Fase 1B Velodrome–Manggarai, Selasa (15/7).
Jalur Baru, Harapan Baru
Koridor Pegangsaan Dua–Manggarai memiliki panjang sekitar 12,2 kilometer dengan 11 stasiun yang menghubungkan kawasan Pegangsaan Dua hingga Manggarai.
Lima stasiun baru yang dibangun meliputi Rawamangun, Pramuka, Kayu Manis, Matraman, dan Manggarai.
Menurut Pramono, seluruh pekerjaan pengangkatan girder telah selesai 100 persen, termasuk pemasangan girder terakhir yang melintasi jalur Double-Double Track (DDT) Manggarai. Saat ini, pekerjaan difokuskan pada penyelesaian rel dari Matraman menuju Manggarai yang ditargetkan rampung pada akhir Juli 2026.
Selain pembangunan fisik, pengujian operasional juga terus dilakukan. Uji coba lintasan telah berlangsung pada rute Velodrome–Kayu Manis sepanjang 3,6 kilometer, sementara pengujian penuh masih menunggu koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Konektivitas Jadi Kunci Mengurangi Kemacetan
Salah satu keunggulan utama koridor ini adalah integrasi dengan berbagai moda transportasi.
Di Stasiun Manggarai, penumpang nantinya dapat melanjutkan perjalanan menggunakan KRL Commuter Line, Kereta Api Bandara, maupun Transjakarta. Integrasi tersebut diharapkan membuat perpindahan antarmoda menjadi lebih praktis dan efisien.
Dengan waktu tempuh sekitar 28 menit, perjalanan dari kawasan timur menuju pusat Jakarta diproyeksikan menjadi lebih cepat dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi pada jam sibuk.
Pemprov DKI Jakarta menilai kemudahan perpindahan antarmoda merupakan salah satu faktor penting agar masyarakat semakin tertarik menggunakan transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi.
Target Layani Hingga 80 Ribu Penumpang
Koridor baru ini diproyeksikan mampu melayani sekitar 60 ribu hingga 80 ribu penumpang setiap hari secara bertahap.
Setiap rangkaian kereta memiliki kapasitas maksimal 275 penumpang, sehingga diharapkan mampu membantu mengurangi kepadatan lalu lintas di sejumlah koridor utama Jakarta.
Pembangunan LRT Jakarta Fase 1B juga menelan investasi sekitar Rp12,5 triliun yang mencakup pembangunan jalur rel, stasiun, sistem operasional, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Untuk mendukung keberlanjutan operasional, Pemprov DKI Jakarta membuka peluang kerja sama melalui skema naming rights stasiun serta pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) bersama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dan PT LRT Jakarta.
Tantangan Setelah Resmi Beroperasi
Meski progres pembangunan hampir selesai, tantangan sesungguhnya akan dimulai saat layanan dibuka untuk masyarakat.
Keberhasilan LRT Jakarta tidak hanya ditentukan oleh rampungnya konstruksi, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat bersedia beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.
Kemudahan akses menuju stasiun, integrasi antarmoda, kenyamanan layanan, serta tarif yang terjangkau akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan jumlah penumpang.
Jika seluruh aspek tersebut berjalan optimal, kehadiran LRT Pegangsaan Dua–Manggarai berpotensi menjadi salah satu solusi nyata untuk mengurangi kemacetan sekaligus mendukung transformasi Jakarta sebagai kota global dengan sistem transportasi publik yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Komentar