Frame Daily, Kupang – Sebuah kisah menyentuh dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), menyita perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Seorang siswa Sekolah Dasar tetap berangkat menuntut ilmu meski tidak memiliki kaos kaki. Demi memenuhi aturan sekolah, sang ayah memilih cara sederhana yang mengundang haru: menggunakan arang sebagai penggantinya.
Video tersebut memperlihatkan Yanto Tefi, warga Desa Lanut, Kecamatan Kot’olin, dengan penuh kesabaran mengoleskan arang hitam ke pergelangan kaki anaknya. Warna hitam dari arang itu dibuat menyerupai kaos kaki agar sang anak tetap bisa berangkat ke sekolah seperti teman-temannya.
Bagi Yanto, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan anaknya berhenti belajar.
"Saat anak mau berangkat ke sekolah, kaos kaki tidak ada. Anaknya tetap harus ke sekolah hari itu, maka dengan cara arang yang saya buat untuk menutupi itu," ujar Yanto saat dikonfirmasi.
Perjuangan yang Mengundang Haru
Perjalanan menuju sekolah ternyata tidak berjalan mulus. Di tengah perjalanan, sang siswa harus menyeberangi aliran sungai. Air yang mengenai kakinya membuat arang yang sebelumnya menempel perlahan luntur.

Keadaan itu membuat anak tersebut sempat memutuskan kembali ke rumah. Kisah sederhana ini kemudian menyebar luas dan menyentuh hati banyak orang. Di balik viralnya video tersebut, tersimpan potret nyata perjuangan keluarga yang hidup dalam keterbatasan demi pendidikan anak.
Disdikbud TTS Bergerak Cepat
Menanggapi video yang ramai diperbincangkan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Apris Manafe, langsung melakukan penelusuran melalui pihak sekolah di Desa Lanut.

Ia memastikan kondisi siswa tersebut sekaligus memeriksa latar belakang keluarganya.
"Saya telusuri ke Desa Lanut, cek kepsek di sana. Kebenaran video ini dan gambaran anak itu berasal dari keluarga tidak mampu atau tidak," tulis Apris Manafe dalam keterangannya.
Sebagai langkah cepat, Disdikbud TTS berencana menyalurkan bantuan darurat kepada siswa tersebut. Pihaknya juga akan memberikan arahan kepada sekolah agar anak-anak dari keluarga kurang mampu menjadi prioritas penerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) melalui dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).
Anggaran Seragam untuk Siswa Kurang Mampu
Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan sebenarnya telah mengalokasikan anggaran pengadaan seragam sekolah pada tahun ini. Nilainya mencapai Rp400 juta yang diperuntukkan bagi setiap SD dengan prioritas siswa dari keluarga kurang mampu.
Program tersebut diharapkan mampu meringankan beban orang tua sekaligus mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Potret Keteguhan di Tengah Keterbatasan
Kisah siswa SD di Desa Lanut ini menjadi pengingat bahwa semangat untuk mendapatkan pendidikan sering kali tumbuh dari tempat yang paling sederhana. Di tengah keterbatasan ekonomi, seorang ayah tetap berusaha agar anaknya bisa belajar dan tidak tertinggal dari teman-temannya.
Di balik sepasang “kaos kaki” dari arang, tersimpan cinta orang tua dan tekad kuat seorang anak untuk terus menggapai masa depan melalui pendidikan.

Komentar