Kemarau Berlanjut, BNPB Minta Warga Mulai Siapkan Sumber Air Alternatif

BNPB mengingatkan masyarakat di wilayah rawan kekeringan untuk menghemat air bersih dan mulai menyiapkan sumber air alternatif, seperti sumur cadangan atau sumber mata air terdekat, guna mengantisipasi kelangkaan air selama musim kemarau.

Kemarau Berlanjut, BNPB Minta Warga Mulai Siapkan Sumber Air Alternatif
Ilustrasi: Warga menyiapkan cadangan air bersih di tengah kondisi kemarau. BNPB mengingatkan masyarakat di wilayah rawan kekeringan untuk menghemat air dan mulai menyiapkan sumber air alternatif. (Framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air bersih seiring berlanjutnya musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.

Dalam laporan perkembangan situasi bencana yang diterbitkan Kamis (10/9/2026), BNPB meminta masyarakat di daerah rawan kekeringan tidak hanya menghemat penggunaan air, tetapi juga menyiapkan sumber air alternatif.

Sumber alternatif yang disebut BNPB antara lain sumur cadangan atau sumber mata air terdekat. Langkah tersebut diperlukan sebagai bagian dari kesiapsiagaan apabila sumber air yang biasa digunakan mulai berkurang.

Peringatan ini menjadi relevan ketika sebagian masyarakat mulai menghadapi persoalan ketersediaan air selama musim kemarau, termasuk debit sumur yang berkurang atau pasokan air yang tidak lagi seperti kondisi normal.

BNPB meminta masyarakat segera melapor kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau aparat setempat jika mulai mengalami kelangkaan air bersih.

Bukan Peringatan yang Muncul Tiba-tiba

Imbauan terbaru tersebut merupakan kelanjutan dari kesiapsiagaan yang telah disuarakan BNPB sejak musim kemarau mulai berdampak pada sejumlah daerah.

Pada 2 September, misalnya, BNPB meminta masyarakat menggunakan air secara bijak, menyimpan cadangan air bersih untuk kebutuhan prioritas, dan segera melapor apabila mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air.

Pada Agustus, BNPB juga memberikan langkah yang lebih praktis: masyarakat diminta mengisi cadangan air ketika pasokan masih tersedia, memperbaiki keran atau pipa bocor, serta menggunakan kembali air bekas yang masih layak untuk kebutuhan tertentu, seperti air cucian sayur untuk menyiram tanaman.

Pemerintah daerah juga telah diminta melakukan antisipasi. Sejak Juni, BNPB mengimbau daerah rawan kekeringan untuk memetakan sumber air alternatif, menyiapkan distribusi air bersih, dan mengoptimalkan konservasi air.

Artinya, fokus penanganan tidak hanya pada pengiriman tangki air setelah masyarakat mengalami kekurangan, tetapi juga menyiapkan sumber dan cadangan sebelum kondisi memburuk.

Sejumlah Daerah Sudah Membutuhkan Bantuan Air

Kekeringan bukan lagi sekadar potensi di sejumlah wilayah.

Pada akhir Juni, BNPB melaporkan BPBD Kabupaten Klaten telah menyalurkan 845.000 liter air bersih atau 169 tangki kepada 2.970 kepala keluarga atau 9.871 jiwa di empat desa yang terdampak kekeringan.

Di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, kekeringan akibat periode tanpa hujan selama sekitar satu bulan menyebabkan masyarakat di lima kecamatan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. BNPB mencatat 4.245 kepala keluarga terdampak berdasarkan laporan 23 Juni.

Sementara di Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara, BNPB pada Agustus melaporkan kekeringan berdampak terhadap 884 kepala keluarga atau 2.946 jiwa di 17 desa, dengan BPBD mendistribusikan air bersih kepada warga.

Data tersebut menunjukkan dampak kemarau dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain. Karena itu, imbauan menyiapkan sumber air alternatif terutama ditujukan kepada masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kekeringan.

Kalau Air Sumur Mulai Berkurang, Apa yang Bisa Dilakukan?

Bagi rumah tangga yang mengandalkan sumur, salah satu tanda yang dapat diperhatikan adalah perubahan ketersediaan air dibandingkan kondisi normal.

Debit air yang semakin kecil atau sumur membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali terisi dapat menjadi indikasi ketersediaan air berkurang. Namun kondisi tersebut tidak otomatis membuktikan kekeringan, karena gangguan pompa dan instalasi pipa juga dapat menimbulkan gejala serupa.

Untuk kesiapsiagaan, masyarakat dapat mulai mengurangi pemakaian yang tidak mendesak, memperbaiki kebocoran, mengisi penampungan ketika air masih tersedia, serta mengetahui sumber air alternatif yang aman dan dapat digunakan apabila pasokan utama terganggu.

Apabila kelangkaan air mulai terjadi pada banyak rumah dalam satu lingkungan, BNPB meminta kondisi tersebut segera dilaporkan kepada BPBD atau aparat setempat agar kebutuhan air bersih dapat ditindaklanjuti.

BNPB juga meminta masyarakat terus mengikuti prakiraan cuaca dan musim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengantisipasi kemungkinan dampak kekeringan yang semakin luas.

Peringatan kemarau tidak hanya berkaitan dengan air bersih. Kondisi vegetasi yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, BNPB meminta masyarakat tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.

Bagi masyarakat, pesan utamanya sederhana: jangan menunggu sumber air benar-benar habis untuk mulai melakukan persiapan. Penghematan, penyimpanan cadangan, identifikasi sumber alternatif, dan pelaporan dini menjadi langkah yang kini ditekankan BNPB menghadapi periode kering.

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar