Frame Daily, Jakarta - Penanganan kebakaran Tempat Pengolahan Akhir Sampah (TPAS) Galuga di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, memasuki hari kedelapan pada Senin (14/9/2026). Meski area kebakaran telah menyusut, pekerjaan belum selesai karena bara masih dapat bertahan di bawah tumpukan sampah.
Pemerintah Kabupaten Bogor kini menggunakan drone termal Mata Garuda untuk mendeteksi titik panas yang tidak terlihat dari permukaan. Drone tersebut diterbangkan setiap satu jam untuk memetakan perubahan suhu di kawasan yang sedang ditangani.
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan citra termal memungkinkan petugas mengetahui bagian mana yang masih panas dan harus menjadi prioritas pemadaman.
“Drone ini terbang satu jam sekali. Apa yang sudah ditangani akan terlihat dari citra termalnya, masih berwarna merah, kuning, atau sudah hijau,” kata Rudy.
Penggunaan teknologi tersebut menjadi penting karena tantangan kebakaran tempat pembuangan sampah berbeda dengan kebakaran di permukaan biasa.
Bara Bisa Tersembunyi hingga Puluhan Meter
Drone termal dapat menemukan titik panas meskipun dari permukaan sudah tidak terlihat api maupun asap.
Setelah titik panas terdeteksi, alat berat dikerahkan untuk membongkar timbunan sampah. Petugas kemudian menyemprot dan mendinginkan bagian yang masih menyimpan bara.
Masalahnya, sejumlah lokasi merupakan kawasan pembuangan lama dengan tumpukan sampah yang dilaporkan memiliki kedalaman sekitar 10 hingga 20 meter.
Kondisi material sampah yang sangat kering memungkinkan panas dan bara bertahan di bawah permukaan.
Situasi tersebut sebenarnya sudah menjadi tantangan sejak beberapa hari sebelumnya. Pada 10 September, Pemkab Bogor melaporkan asap masih mengepul dari balik tumpukan sampah dengan ketinggian lebih dari 10 meter.
Pemerintah daerah menjelaskan api di lokasi pembuangan sampah tidak hanya berada di permukaan. Bara dapat tersimpan di bagian dalam tumpukan yang telah memadat dan kembali memunculkan api ketika material dibongkar atau dipindahkan.
Inilah sebabnya lokasi yang dari luar tampak tidak lagi terbakar belum otomatis dapat dinyatakan aman.
Area Kebakaran Sudah Jauh Menyusut
Ada perkembangan positif dalam penanganan.
Pada 7 September, luas area terdampak tercatat sekitar 5,5 hektare dan meningkat menjadi sekitar 8,4 hektare pada hari berikutnya.
Setelah pemadaman dilakukan selama beberapa hari, area yang masih membutuhkan penanganan dilaporkan tersisa sekitar 1,4 hektare di bagian utara dan 1.000 meter persegi di bagian timur.
Sementara penanganan kebakaran pada bagian selatan yang dikelola Pemerintah Kabupaten Bogor telah selesai.
Tim gabungan tetap bekerja selama 24 jam dengan sistem tiga shift untuk melakukan pemadaman, pembongkaran timbunan, dan pendinginan.
Pemkab Bogor menargetkan seluruh titik kebakaran dapat dipadamkan sebelum 17 September 2026. Target tersebut merupakan sasaran penanganan, bukan kepastian bahwa seluruh bara akan padam pada tanggal tersebut.
Kebakaran Berawal dari Lahan di Sekitar TPAS
Ada satu detail kronologi yang penting agar tidak keliru.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), kebakaran pertama kali teridentifikasi pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 16.00 WIB di area lahan perkebunan, kemudian menyebar ke kawasan TPA Galuga.
Pemkab Bogor juga sebelumnya menjelaskan kebakaran bermula dari lahan pertanian yang bersebelahan dengan TPAS, bukan dari area pembuangan sampah itu sendiri.
Api kemudian menjangkau kawasan TPAS dan membuat penanganannya menjadi lebih sulit karena masuk ke timbunan sampah.
Pada tahap awal penanganan, pemerintah mengerahkan pemadaman dari darat maupun udara. Helikopter dari Lanud Atang Sendjaja juga digunakan untuk melakukan water bombing pada titik yang sulit dijangkau.
Kualitas Udara Juga Dipantau
Selain api, asap dari kebakaran TPAS menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi masyarakat di sekitarnya.
KLH/BPLH telah menyatakan perlunya sistem pemantauan kualitas udara bergerak di kawasan Galuga. Data tersebut digunakan untuk mengetahui kondisi udara sekaligus menjadi dasar pemerintah daerah dalam memberikan imbauan kepada masyarakat.
Dengan demikian, pekerjaan di Galuga tidak berhenti ketika kobaran api sudah tidak terlihat.
Petugas masih harus memastikan tidak ada titik panas yang bertahan jauh di bawah permukaan. Selama bara tersebut masih ada, potensi api kembali muncul belum sepenuhnya dapat diabaikan.
Itulah mengapa pada hari kedelapan penanganan, drone termal menjadi salah satu alat penting. Teknologi tersebut membantu petugas melihat sesuatu yang tidak dapat diketahui hanya dengan mata: panas yang masih tersimpan di balik timbunan sampah meskipun permukaannya terlihat telah padam.
Follow Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta, dan cerita di balik isu yang sedang ramai.
Komentar