Frame Daily, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (21/7/2026), menguat 108,24 poin atau 1,74 persen ke level 6.340,02. Penguatan ini sekaligus memperpanjang reli IHSG menjadi sembilan hari perdagangan berturut-turut, menandakan sentimen positif investor masih mendominasi pasar saham domestik.
Berdasarkan data perdagangan BEI, nilai transaksi saham mencapai Rp21,50 triliun dengan volume 51,06 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 2,94 juta kali. Sebanyak 421 saham menguat, 205 saham melemah, dan 169 saham ditutup stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai sekitar Rp11.069 triliun.
Sektor Energi Pimpin Penguatan
Dari sebelas sektor di BEI, sepuluh sektor berakhir di zona hijau. Sektor energi menjadi motor penguatan dengan kenaikan sekitar 3,48 persen, disusul sektor bahan baku, infrastruktur, teknologi, dan properti. Sebaliknya, sektor kesehatan menjadi satu-satunya sektor yang ditutup melemah.
Sejumlah saham dengan nilai transaksi terbesar pada perdagangan hari ini antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Sementara itu, saham-saham yang mencatat penguatan signifikan di antaranya DSSA, JGLE, dan CUAN, sedangkan saham FILM, SUNI, dan JELI masuk dalam daftar pelemahan terbesar pada perdagangan hari ini.
Optimisme Kinerja Emiten Jadi Penopang
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan penguatan IHSG didorong oleh valuasi saham Indonesia yang dinilai masih menarik serta optimisme terhadap kinerja laporan keuangan emiten semester I-2026.
Menurutnya, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada tiga faktor utama, yakni konsistensi arus dana asing, stabilitas nilai tukar rupiah, dan kemampuan emiten membukukan laba yang melampaui ekspektasi pasar.
Sentimen Global Masih Menjadi Perhatian
Selain faktor domestik, investor juga mencermati perkembangan pasar global, termasuk pergerakan harga komoditas dan arah kebijakan bank sentral dunia. Meski demikian, pasar saham Indonesia menunjukkan daya tahan yang relatif kuat dibandingkan sejumlah bursa regional pada perdagangan hari ini.
Dengan reli yang telah berlangsung selama sembilan hari, pelaku pasar tetap mewaspadai potensi aksi ambil untung (profit taking). Namun, selama arus dana asing tetap masuk dan laporan keuangan emiten sesuai harapan, peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan dinilai masih terbuka.
Komentar