Frame Daily, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Setelah sempat menguat di awal sesi, tekanan jual kembali mendominasi pasar dan membuat indeks berbalik melemah.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG sempat naik ke level 6.366 saat preopening. Sekitar pukul 09.11 WIB, indeks turun ke posisi 6.294 atau melemah 0,37 persen.
Kondisi ini memperpanjang tren koreksi IHSG dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap sentimen global dan tekanan di pasar domestik.
Tekanan Global Masih Membayangi Pasar
Pergerakan IHSG saat ini dipengaruhi meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap kondisi ekonomi dunia. Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat serta ketidakpastian geopolitik membuat dana asing cenderung keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Riset Kiwoom Sekuritas yang dilansir Pasardana menyebut pasar saham masih bergerak volatil dengan kecenderungan bearish meski Wall Street sebelumnya ditutup menguat.
Di sisi lain, pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar juga menjadi pemberat utama indeks. Saham sektor basic materials, energi, dan transportasi tercatat mengalami tekanan cukup dalam pada perdagangan sebelumnya.
Saham Big Caps Jadi Pemberat IHSG
Beberapa saham yang memberi tekanan signifikan terhadap IHSG antara lain:
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
Penurunan saham-saham tersebut memicu tekanan lanjutan terhadap indeks karena memiliki bobot besar dalam pergerakan IHSG.
Analis Lihat Peluang Rebound Terbatas
Meski tren jangka pendek masih bearish, sejumlah analis melihat peluang technical rebound mulai terbuka karena indikator stochastic sudah memasuki area oversold.
Tim analis Bareksa memperkirakan IHSG bergerak pada rentang support 6.280 hingga resistance 6.635. Sementara MNC Sekuritas melihat area support penting berada di kisaran 6.148–6.179.
Dalam riset yang dikutip dari Bisnis.com, MNC Sekuritas menyarankan strategi buy on weakness untuk beberapa saham pilihan di tengah tekanan pasar saat ini.
Investor Masih Pilih Wait and See
Pelaku pasar saat ini masih menunggu arah baru dari sentimen global, termasuk perkembangan suku bunga Amerika Serikat, pergerakan rupiah, dan arus modal asing.
Di media sosial dan forum investor, banyak investor retail mulai bersikap hati-hati setelah IHSG mengalami penurunan tajam dalam waktu singkat. Sebagian investor memilih menunggu stabilisasi pasar sebelum kembali melakukan akumulasi saham.
IHSG Berpotensi Volatil dalam Jangka Pendek
Pergerakan IHSG diperkirakan masih fluktuatif hingga akhir pekan. Tekanan eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar.
Jika arus asing mulai kembali masuk dan rupiah stabil, peluang rebound jangka pendek bisa terbuka. Investor tetap disarankan fokus pada saham dengan fundamental kuat serta menghindari transaksi spekulatif di tengah volatilitas tinggi pasar saham saat ini.
Komentar