Harga Cabai Rawit Bergejolak, Bapanas dan Kementan Mobilisasi Stok Antardaerah

Harga cabai rawit bergejolak dengan rata-rata nasional mencapai Rp81.052 per kilogram berdasarkan data Bapanas per 10 September 2026. Pemerintah menyiapkan mobilisasi pasokan dari daerah surplus menuju wilayah dengan harga tinggi melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan.

Harga Cabai Rawit Bergejolak, Bapanas dan Kementan Mobilisasi Stok Antardaerah
Cabai rawit dijual di pasar tradisional. Pemerintah menyiapkan mobilisasi pasokan dari daerah surplus menuju wilayah dengan harga tinggi untuk meredam gejolak harga cabai rawit. Ilustrasi: Framedaily.id

Frame Daily, Jakarta - Pemerintah bergerak meredam gejolak harga cabai rawit yang terjadi di sejumlah wilayah. Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan mobilisasi pasokan dari daerah yang memiliki stok lebih banyak menuju wilayah yang mengalami tekanan harga.

Langkah tersebut akan dilakukan melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), yang bertujuan membantu memperlancar distribusi komoditas dari daerah surplus ke daerah defisit atau daerah dengan harga tinggi.

Berdasarkan pemantauan Bapanas per 10 September 2026, rata-rata harga cabai rawit secara nasional telah mencapai Rp81.052 per kilogram.

Namun, harga antarwilayah berbeda cukup jauh. Sulawesi Utara tercatat memiliki rata-rata harga tertinggi sebesar Rp152.872 per kilogram, sedangkan Nusa Tenggara Timur menjadi yang terendah dengan rata-rata Rp56.604 per kilogram.

Perbedaan harga yang lebar inilah yang coba diredam melalui pergerakan pasokan antardaerah.

Stok dari Daerah Surplus Akan Digerakkan

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan dinamika harga dan pasokan cabai rawit perlu segera direspons.

Bapanas akan berkoordinasi dengan Kementan untuk memetakan daerah yang memiliki pasokan dan daerah yang membutuhkan tambahan stok.

Salah satu daerah yang menjadi perhatian adalah Kediri. Pemerintah juga melihat kemungkinan memanfaatkan produksi dari wilayah lain untuk memasok daerah yang mengalami harga tinggi.

Skema FDP sebenarnya bukan langkah baru.

Pada triwulan pertama 2026, program tersebut telah digunakan untuk menggerakkan 5.590 kilogram cabai rawit dari Enrekang, Sulawesi Selatan. Sebanyak 4.090 kilogram dikirim menuju Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, sedangkan 1.500 kilogram lainnya didistribusikan ke Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Petani yang tergabung dalam kelompok Champion Cabai binaan Kementan juga akan kembali dilibatkan. Mereka diproyeksikan membantu memasok cabai dari sentra produksi menuju wilayah yang sedang mengalami tekanan harga.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudiarto mengatakan petani binaan Kementan pada prinsipnya siap membantu distribusi menuju daerah-daerah yang harga cabai rawitnya relatif tinggi.

Kenapa Harga Cabai Bisa Berbeda Jauh?

Data harga menunjukkan persoalan cabai saat ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi nasional, tetapi juga lokasi produksi dan kelancaran distribusi.

Cabai merupakan komoditas pangan yang harganya mudah berubah. Ketika produksi di satu daerah berkurang sementara kebutuhan tetap tinggi, harga lokal dapat melonjak meskipun daerah lain masih memiliki pasokan.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat harga cabai rawit nasional pada minggu pertama September sekitar Rp73.000 per kilogram, naik 22,3 persen dibandingkan rata-rata Agustus sebesar Rp59.760 per kilogram.

Pada periode tersebut, sebanyak 251 kabupaten/kota tercatat mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai rawit.

Perkembangan berikutnya dari Bapanas menunjukkan rata-rata harga nasional per 10 September telah mencapai Rp81.052 per kilogram. Perbedaan angka tersebut perlu dibaca berdasarkan sumber, metode pemantauan, dan waktu pencatatan masing-masing, bukan sebagai angka yang saling menggantikan secara langsung.

Produksi Nasional Diperkirakan Masih Mencukupi

Di tengah gejolak harga, Kementan memperkirakan produksi cabai rawit nasional pada September mencapai sekitar 119 ribu ton.

Jawa Timur masih menjadi salah satu sentra produksi penting. Sementara di Jawa Tengah, produksi antara lain terdapat di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Pemerintah juga mempersiapkan produksi untuk mengantisipasi kebutuhan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Artinya, persoalan yang sedang dihadapi tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai Indonesia kehabisan cabai.

Tantangannya adalah memastikan pasokan yang tersedia dapat bergerak menuju wilayah yang membutuhkan dengan cukup cepat sehingga perbedaan harga antardaerah dapat ditekan.

Contoh kondisi tersebut terlihat di Sulawesi Utara. Pemerintah daerah mendatangkan sekitar 3.000 kilogram cabai rawit dari Makassar, Sulawesi Selatan, ketika harga cabai rawit di Pasar Bersehati, Manado, dilaporkan mencapai Rp200 ribu per kilogram.

Akankah Harga Cabai Segera Turun?

Mobilisasi stok dapat membantu menambah pasokan di daerah dengan harga tinggi. Namun, belum ada dasar untuk memastikan harga cabai akan langsung turun ke tingkat tertentu setelah distribusi dilakukan.

Efektivitasnya akan bergantung pada volume cabai yang dikirim, kebutuhan daerah tujuan, kontinuitas produksi, biaya distribusi, hingga kondisi pasar.

Karena itu, angka harga nasional juga tidak selalu menggambarkan harga yang akan ditemui konsumen di setiap pasar. Harga cabai dapat berbeda cukup jauh antara satu kota dengan kota lainnya.

Fokus pemerintah saat ini adalah mempertemukan daerah yang memiliki pasokan dengan daerah yang mengalami kekurangan atau tekanan harga.

Jika mobilisasi tersebut berjalan lancar dan produksi tetap terjaga, tambahan pasokan diharapkan dapat membantu mempersempit kesenjangan harga cabai rawit antardaerah.

Follow Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta, dan cerita di balik isu yang sedang ramai.

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar