Flores Sudah Diguncang Ribuan Gempa Susulan, Kenapa Gempa Bisa Terjadi Berkali-kali?

Ribuan gempa susulan terjadi setelah gempa M7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Jumlahnya memang cenderung menurun seiring waktu, tetapi tidak selalu turun setiap hari. Kenapa bumi masih terus berguncang setelah gempa utama berlalu?

Flores Sudah Diguncang Ribuan Gempa Susulan, Kenapa Gempa Bisa Terjadi Berkali-kali?
Gempa utama dapat diikuti rangkaian gempa susulan ketika kerak bumi di sekitar sumber gempa masih melakukan penyesuaian. Setelah gempa M7,7 Flores pada 15 Agustus 2026, BMKG mencatat ribuan gempa susulan.Ilustrasi AI: Framedaily.id

Frame Daily, Jakarta - Gempa utama mungkin hanya berlangsung dalam hitungan detik. Namun, aktivitas di dalam bumi ternyata tidak serta-merta selesai ketika guncangan yang dirasakan masyarakat berhenti.

Hal itu terlihat setelah gempa M7,7 Flores pada 15 Agustus 2026. Ribuan gempa susulan tercatat setelah gempa utama mengguncang kawasan tersebut.

Dalam enam hari pertama saja, hingga 21 Agustus pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 4.256 gempa susulan. Magnitudonya berkisar M1,1 hingga M6,2. Sebanyak 31 kejadian memiliki magnitudo di atas M5 dan 118 gempa dilaporkan dirasakan masyarakat.

Aktivitas gempa di kawasan Flores juga belum sepenuhnya berhenti. Data real-time BMKG masih memperlihatkan sejumlah kejadian gempa di kawasan Flores hingga 12 September 2026.

Lalu kenapa gempa bisa terjadi berkali-kali setelah gempa utama?

Bumi Masih Melakukan Penyesuaian

Bayangkan sebuah benda yang mendapat tekanan dalam waktu lama, kemudian sebagian tekanannya dilepaskan secara tiba-tiba.

Gambaran sederhananya kurang lebih seperti itu.

Gempa utama M7,7 Flores terjadi akibat aktivitas tektonik pada Flores Back-Arc Thrust, zona sesar naik yang berada di kawasan tersebut. BMKG menyebut gempa utama merupakan gempa dangkal dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.

Ketika gempa utama terjadi, batuan di sekitar sumber gempa mengalami perubahan tekanan.

Energi besar memang sudah dilepaskan saat gempa utama, tetapi bagian kerak bumi di sekitarnya belum tentu langsung mencapai kondisi keseimbangan baru.

BMKG menjelaskan kerak bumi di sekitar sumber gempa masih mengalami proses penyesuaian. Proses itulah yang menghasilkan rangkaian gempa susulan atau aftershock sequence.

Karena proses tersebut berlangsung di banyak bagian zona sumber gempa, guncangan dapat muncul berkali-kali.

Ada yang sangat kecil dan hanya tercatat alat pemantauan. Ada pula yang cukup kuat untuk kembali dirasakan masyarakat.

Itulah sebabnya jumlah gempa yang tercatat BMKG bisa mencapai ribuan, sementara tidak semuanya dirasakan manusia.

Kenapa Jumlahnya Tidak Langsung Berhenti?

Gempa susulan umumnya memiliki pola tertentu.

Seiring waktu, frekuensinya cenderung berkurang. Dalam ilmu gempa, kecenderungan penurunan aktivitas tersebut dikenal sebagai peluruhan gempa susulan.

Namun, “cenderung turun” tidak berarti jumlah gempa harus selalu lebih sedikit setiap hari.

Analisis BMKG terhadap rangkaian gempa Flores menunjukkan pola yang menarik.

Pada hari pertama tercatat sekitar 733 kejadian, kemudian 786 pada hari kedua dan 685 pada hari ketiga. Hari keenam justru naik menjadi sekitar 887 kejadian. Memasuki hari ke-16, jumlah harian berada di sekitar 462 kejadian.

Jadi grafiknya tidak berbentuk garis yang terus turun dengan mulus.

Suatu hari jumlah gempa bisa menurun, kemudian keesokan harinya meningkat lagi. Yang diperhatikan para ahli adalah kecenderungan aktivitas dalam jangka waktu lebih panjang, bukan sekadar membandingkan satu hari dengan hari berikutnya.

BMKG juga menemukan aktivitas gempa Flores membentuk beberapa kelompok atau klaster. Perubahan aktivitas pada masing-masing klaster dapat membuat jumlah gempa harian berfluktuasi.

Dengan kata lain, kenaikan jumlah gempa pada satu hari tidak otomatis berarti kondisi menuju gempa yang lebih besar.

Apakah Gempa Susulan Bisa Sama Kuatnya dengan Gempa Utama?

Dalam rangkaian Flores ini, gempa utama memiliki magnitudo M7,7, sementara gempa susulan terbesar yang dicatat BMKG dalam enam hari pertama mencapai M6,2.

Artinya, istilah “gempa susulan” jangan diartikan sebagai gempa yang selalu kecil atau tidak berbahaya.

Sebagian besar memang lebih kecil dibanding gempa utama, tetapi beberapa gempa susulan masih dapat menghasilkan guncangan kuat.

Kondisi ini menjadi penting terutama di wilayah yang bangunannya sudah mengalami kerusakan akibat gempa utama. Struktur yang sebelumnya melemah dapat menghadapi beban tambahan ketika terjadi guncangan berikutnya.

Karena itu, masyarakat di kawasan terdampak tetap perlu memperhatikan kondisi bangunan dan informasi resmi meskipun gempa utama sudah berlalu.

Ribuan Gempa Bukan Berarti Ribuan Kali Guncangan Besar

Angka ribuan juga perlu dibaca dengan benar.

Ketika BMKG menyebut ribuan gempa susulan, bukan berarti masyarakat mengalami ribuan kali guncangan kuat.

Jaringan seismik dapat mendeteksi gempa dengan magnitudo kecil yang mungkin sama sekali tidak terasa oleh manusia.

Contohnya, dari 4.256 gempa susulan yang tercatat sampai 21 Agustus, sebanyak 118 dilaporkan dirasakan. Artinya, sebagian besar kejadian hanya terekam oleh instrumen pemantauan.

Kemampuan mendeteksi gempa-gempa kecil justru penting bagi ahli gempa.

Dari ribuan titik tersebut, para peneliti dapat mempelajari bagaimana aktivitas bergerak di sepanjang zona sumber, bagian mana yang masih aktif, serta bagaimana pola gempa berubah dari waktu ke waktu.

Bisakah Dipastikan Kapan Gempa Susulan Berakhir?

Inilah bagian yang perlu dipahami dengan hati-hati.

Pada 19 Agustus, berdasarkan data sementara ketika itu, BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan dapat berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu. Namun, perkiraan peluruhan bukan jam hitung mundur yang menentukan tanggal pasti gempa terakhir.

Aktivitas gempa merupakan proses alam yang kompleks.

Karena itu, yang dapat dilakukan para ahli adalah menganalisis pola penurunannya berdasarkan data yang terus dikumpulkan.

BMKG dalam analisis hingga hari ke-16 menunjukkan aktivitas secara umum menuju tren peluruhan, meskipun jumlah gempa harian masih naik-turun.

Dan data real-time hingga 12 September masih mencatat kejadian-kejadian gempa di kawasan Flores.

Jadi, ribuan gempa setelah M7,7 Flores bukan berarti bumi mengalami ribuan peristiwa besar yang berdiri sendiri.

Sebagian besar merupakan bagian dari rangkaian penyesuaian kerak bumi setelah gempa utama.

Semakin lama, aktivitasnya secara umum diharapkan terus meluruh. Tetapi proses menuju kondisi yang lebih stabil dapat berlangsung bertahap—dan sesekali grafiknya masih bisa naik sebelum kembali menurun.

Itulah mengapa setelah sebuah gempa besar, cerita tentang apa yang terjadi di dalam bumi belum tentu selesai ketika guncangan pertama berhenti.

Follow Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta, dan cerita di balik isu yang sedang ramai.

Hashtag: #GempaFlores #GempaSusulan #Flores #NTT #BMKG #Sains #FrameDaily

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar