Frame Daily, Jakarta - Enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu berdekatan. Fenomena ini sempat memunculkan pertanyaan besar: apakah letusan di berbagai wilayah tersebut saling berkaitan?
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM akhirnya memberikan penjelasan. Fenomena enam gunung api erupsi tersebut dipastikan bukan akibat satu proses geologi yang memicu seluruh gunung secara bersamaan.
Enam gunung api erupsi itu tersebar dari Sumatera hingga Maluku dan Nusa Tenggara. Gunung yang dimaksud ialah Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara, serta Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Fenomena enam gunung api erupsi dalam periode berdekatan terjadi ketika Indonesia sedang menghadapi dinamika vulkanik di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat perhatian publik tertuju pada kemungkinan adanya hubungan antara satu letusan dengan letusan lainnya.
Kepala PVMBG Rita Susilawati memastikan tidak ditemukan bukti bahwa keenam gunung tersebut memiliki satu sistem geologi yang saling terhubung.
"Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda," kata Rita dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Rita menegaskan aktivitas vulkanik pada satu gunung tidak secara otomatis berkaitan dengan letusan gunung api lainnya. Setiap gunung memiliki karakteristik dan dinamika magma yang berbeda.
Mengapa Banyak Gunung Bisa Erupsi Bersamaan?
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa enam gunung api bisa mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan jika tidak saling memicu?
PVMBG menjelaskan jawabannya berkaitan erat dengan posisi Indonesia. Negara ini berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, jalur aktivitas tektonik dan vulkanik yang mengelilingi Samudra Pasifik.
Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Jumlah tersebut membuat aktivitas vulkanik di beberapa gunung pada periode yang sama sangat mungkin terjadi.
Kesamaan waktu erupsi tidak otomatis menunjukkan adanya satu sumber tekanan yang bekerja pada seluruh gunung. Sistem magma masing-masing gunung berkembang berdasarkan kondisi bawah permukaan, suplai magma, tekanan, serta karakter vulkaniknya sendiri.
Rita menggambarkan kondisi tersebut seperti dapur yang berdiri sendiri-sendiri. Setiap dapur memiliki proses memasak dan tekanan yang berbeda, sehingga munculnya aktivitas pada satu dapur tidak berarti dapur lainnya ikut terpengaruh.
PVMBG juga memastikan belum menemukan bukti adanya satu proses geologi yang menjadi pemicu seluruh erupsi pada 31 Agustus 2026. Kesimpulan tersebut didasarkan pada hasil pemantauan terhadap aktivitas gunung api.
Gempa Tidak Otomatis Picu Erupsi
Isu lain yang ikut menjadi perhatian adalah hubungan antara gempa bumi dan letusan gunung api. Fenomena enam gunung api erupsi membuat sebagian masyarakat kembali mengaitkan aktivitas vulkanik dengan gempa tektonik.
PVMBG meminta publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Gempa tektonik tidak otomatis memicu erupsi gunung api.
Hubungan tersebut harus dibuktikan melalui perubahan sejumlah parameter vulkanik. Beberapa indikator yang diperhatikan meliputi kegempaan dalam, deformasi tubuh gunung, perubahan suhu, serta perubahan pelepasan gas vulkanik.
Data pemantauan tersebut menjadi dasar bagi PVMBG dalam membaca perkembangan aktivitas sebuah gunung. Analisis tidak hanya dilakukan berdasarkan satu kejadian atau satu parameter.
Artinya, ketika terjadi gempa di suatu wilayah yang berdekatan dengan gunung api, masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa letusan akan terjadi. Informasi resmi dan hasil pemantauan harus menjadi rujukan utama.
Sinabung Naik Status Jadi Siaga
Dari enam gunung api tersebut, perkembangan signifikan terjadi di Gunung Sinabung, Sumatera Utara. Tingkat aktivitas gunung ini dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB.
Kenaikan status dilakukan setelah Gunung Sinabung mengalami erupsi dengan kolom abu vulkanik mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak.
PVMBG meminta masyarakat mematuhi rekomendasi kawasan bahaya. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung serta radius 6 kilometer pada sektor selatan-tenggara.
Ancaman tidak hanya berasal dari erupsi secara langsung. Material vulkanik yang terbawa air hujan juga dapat menimbulkan lahar hujan di sepanjang sungai yang berhulu dari kawasan puncak.
Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah rawan diminta meningkatkan kewaspadaan ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Jalur sungai yang berhulu di gunung menjadi salah satu kawasan yang perlu diperhatikan.
Anak Krakatau Masih Level III
Perhatian juga tertuju pada Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Gunung tersebut masih berstatus Level III atau Siaga, status yang telah berlaku sejak 2 Juli 2026.
Pada 31 Agustus 2026, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 200 meter di atas puncak. Aktivitas ini kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan sejarah tsunami akibat aktivitas kawasan Krakatau. Masyarakat pun kembali mempertanyakan apakah setiap erupsi Anak Krakatau dapat memicu tsunami.
PVMBG mengimbau masyarakat tidak panik. Erupsi gunung api tidak serta-merta menyebabkan tsunami karena tsunami membutuhkan mekanisme tertentu yang menyebabkan perpindahan massa air dalam jumlah besar.
Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan lembaga kebencanaan. Informasi yang belum terverifikasi di media sosial sebaiknya tidak langsung dipercaya atau disebarluaskan.
Waspada, Bukan Panik
Fenomena enam gunung api erupsi secara berdekatan menjadi pengingat bahwa Indonesia memang berada di salah satu kawasan dengan aktivitas vulkanik tinggi di dunia. Kejadian tersebut perlu direspons dengan kewaspadaan, bukan kepanikan.
PVMBG menegaskan tidak ada bukti yang menunjukkan keenam gunung tersebut sedang berada dalam satu sistem geologi yang sama. Aktivitas masing-masing gunung berjalan mengikuti dinamika vulkaniknya sendiri.
Bagi masyarakat, langkah paling penting adalah mengikuti rekomendasi berdasarkan status masing-masing gunung. Radius bahaya, potensi abu vulkanik, awan panas, guguran material, hingga lahar hujan harus menjadi perhatian sesuai kondisi wilayah.
Khusus masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau, informasi mengenai potensi tsunami perlu diperoleh dari sumber resmi. Warga Banten dan Lampung tidak perlu menyimpulkan bahwa setiap letusan otomatis berarti tsunami.
Dengan 127 gunung api aktif yang tersebar di berbagai wilayah, aktivitas beberapa gunung dalam waktu berdekatan merupakan bagian dari dinamika geologi Indonesia. Fenomena tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya bencana vulkanik nasional yang sedang bergerak secara serentak.
Pesan PVMBG jelas: keenam gunung tersebut memiliki "dapur" masing-masing. Erupsi yang terjadi bersamaan secara waktu bukan bukti bahwa satu gunung memicu gunung lainnya.
Pemantauan terhadap seluruh gunung api akan terus menjadi kunci. Masyarakat diminta tetap waspada, mematuhi zona bahaya, serta menjadikan informasi resmi sebagai pegangan ketika aktivitas vulkanik kembali meningkat.
Komentar