Efek Domino Kenaikan BBM terhadap Perekonomian

Efek Domino Kenaikan BBM terhadap Perekonomian
Photo by Anshor Halim / Unsplash

Frame Daily, Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian publik setelah PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga BBM nonsubsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Green, mulai 10 Juni 2026. Penyesuaian tersebut dilakukan di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya konflik geopolitik yang memengaruhi pasokan energi global.

Meski pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan, kenaikan BBM nonsubsidi tetap memunculkan efek domino terhadap berbagai sektor ekonomi. Mulai dari biaya transportasi, distribusi barang, inflasi, hingga daya beli masyarakat diperkirakan akan ikut terdampak.

Ongkos Distribusi Naik, Harga Barang Berpotensi Mengikuti

Kenaikan harga BBM menjadi salah satu faktor utama meningkatnya biaya logistik nasional. Kendaraan angkutan barang yang menggunakan BBM nonsubsidi harus menanggung biaya operasional lebih tinggi.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong pelaku usaha melakukan penyesuaian harga jual agar margin usaha tetap terjaga. Dampaknya dapat dirasakan pada harga kebutuhan pokok, bahan baku industri, hingga tarif jasa distribusi.

Sektor UMKM juga menjadi kelompok yang cukup rentan karena sebagian besar memiliki kemampuan terbatas dalam menyerap kenaikan biaya operasional.

Foto : ANTARA/Ricky Prayoga/trs/aa.

Tekanan Inflasi Mulai Terlihat

BBM merupakan komponen strategis yang memengaruhi pergerakan inflasi. Ketika biaya energi meningkat, biaya produksi dan distribusi barang ikut terdorong naik sehingga memicu kenaikan harga di berbagai sektor.

Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen atau menjadi level tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah menilai dampak kenaikan BBM nonsubsidi terhadap inflasi masih relatif terbatas karena produk yang mengalami kenaikan bukan merupakan BBM utama transportasi umum.

Daya Beli Masyarakat Berpotensi Tertekan

Kenaikan biaya transportasi menjadi beban tambahan bagi masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang banyak menggunakan Pertamax sebagai bahan bakar kendaraan pribadi.

Selain pengeluaran untuk BBM, masyarakat juga berpotensi menghadapi kenaikan harga pangan, tarif distribusi, hingga biaya kebutuhan sehari-hari apabila efek kenaikan biaya logistik terus berlanjut.

Apabila pendapatan tidak mengalami peningkatan, konsumsi rumah tangga diperkirakan akan melambat. Padahal konsumsi domestik selama ini masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dunia Usaha Hadapi Tantangan Baru

Industri manufaktur, perdagangan, pertanian, hingga jasa logistik menjadi sektor yang paling cepat merasakan dampak kenaikan biaya energi.

Pelaku usaha dihadapkan pada dua pilihan, yakni menyerap kenaikan biaya agar harga tetap kompetitif atau menaikkan harga jual untuk menjaga profitabilitas.

Bagi perusahaan besar, penyesuaian tersebut masih dapat dilakukan melalui efisiensi. Sebaliknya, bagi pelaku UMKM, ruang untuk melakukan efisiensi relatif lebih sempit sehingga tekanan terhadap arus kas menjadi lebih besar.

Foto: dok Pertamina

Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Tetap Aman

Pemerintah menegaskan bahwa penyesuaian harga hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi yang mengikuti mekanisme pasar dan perkembangan harga minyak dunia.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan kenaikan harga Pertamax tidak dapat dihindari karena mengikuti formula harga yang telah ditetapkan pemerintah.

"BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah," ujar Dwi Anggia seperti dikutip detikFinance.

Sementara itu, pemerintah memastikan harga Pertalite dan Solar subsidi tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, juga menegaskan bahwa penyesuaian harga mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak internasional.

"Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," kata Simon.

Ekonom Ingatkan Dampak Fiskal

Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menilai porsi konsumsi BBM yang mengalami kenaikan memang relatif kecil, sekitar 7 persen dari total penjualan BBM domestik. Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter agar tekanan terhadap ekonomi tidak semakin besar.

Sementara itu, Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar, menilai kelompok kelas menengah justru menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan Pertamax karena mayoritas merupakan pengguna BBM tersebut. Menurutnya, tekanan terhadap kelompok ini dapat mengurangi konsumsi rumah tangga apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, kebijakan menjaga stabilitas harga BBM subsidi dipandang menjadi langkah penting untuk menahan laju inflasi. Di sisi lain, kenaikan BBM nonsubsidi tetap menjadi pengingat bahwa gejolak harga energi dunia memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi nasional, mulai dari sektor logistik, industri, hingga daya beli masyarakat.

Ditulis oleh TA

Komentar