Frame Daily - Doom spending menjadi istilah yang semakin sering dibahas dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini menggambarkan perilaku seseorang yang sengaja menghabiskan uang untuk berbelanja sebagai pelarian dari rasa cemas terhadap masa depan, mulai dari ketidakpastian ekonomi, biaya hidup yang meningkat, hingga kekhawatiran terhadap peluang kerja.
Perilaku tersebut banyak ditemukan pada generasi muda, khususnya Generasi Z dan milenial, yang hidup di tengah tekanan inflasi, tingginya harga properti, serta derasnya arus informasi di media sosial. Alih-alih menabung, sebagian memilih menikmati uang saat ini karena merasa masa depan sulit diprediksi.
Tren ini pertama kali ramai diperbincangkan di media internasional setelah berbagai survei menunjukkan meningkatnya kebiasaan belanja impulsif sebagai bentuk coping mechanism terhadap tekanan psikologis. Pakar menyebutnya sebagai evolusi dari fenomena retail therapy, tetapi dipicu oleh kecemasan yang lebih dalam terhadap kondisi ekonomi global.
Mengapa Anak Muda Melakukan Doom Spending?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa doom spending tidak semata-mata dipicu oleh keinginan memiliki barang baru. Faktor psikologis justru menjadi pendorong utama. Saat seseorang merasa cemas, otak mencari cara memperoleh kepuasan instan melalui pelepasan hormon dopamin. Berbelanja menjadi salah satu aktivitas yang mampu memberikan rasa senang sesaat.
Selain itu, media sosial turut memperkuat perilaku tersebut. Paparan konten gaya hidup, promosi e-commerce, hingga tren yang dibagikan influencer membuat banyak orang merasa terdorong untuk terus membeli barang agar tidak tertinggal atau mengalami fear of missing out (FoMO).
Penelitian yang dipublikasikan di Garuda Kemdiktisaintek pada 2025 menemukan bahwa pendapatan, gaya hidup, dan media sosial memiliki pengaruh terhadap munculnya doom spending pada Generasi Z. Studi lain juga menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara FoMO dan pembelian impulsif dalam fenomena doom spending.
Dampak terhadap Kondisi Keuangan dan Mental
Meski memberikan rasa lega dalam waktu singkat, perilaku doom spending berpotensi menimbulkan masalah finansial dalam jangka panjang. Pengeluaran yang tidak direncanakan dapat mengganggu kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan pokok maupun membangun dana darurat.
Di sisi lain, muncul siklus yang sulit diputus. Setelah membeli barang, rasa senang perlahan menghilang dan berganti penyesalan karena uang telah habis. Kondisi ini justru memunculkan kecemasan baru mengenai keuangan sehingga mendorong perilaku belanja kembali.
Para psikolog menjelaskan bahwa doom spending bukan solusi atas stres, melainkan bentuk pelarian emosional. Karena itu, apabila dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat memperburuk kesehatan mental sekaligus kondisi ekonomi individu.
Fenomena yang Mulai Menjadi Perhatian di Indonesia
Fenomena serupa juga mulai mendapat perhatian di Indonesia. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, misalnya, mengingatkan mahasiswa agar lebih bijak menyikapi fenomena "boom spending" atau perilaku belanja impulsif yang dipicu kecemasan dan kemudahan akses pinjaman daring.
Dalam seminar yang digelar bersama kalangan akademisi, peserta diingatkan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan, terutama di era pembayaran digital yang membuat transaksi semakin mudah dilakukan.
Sejumlah penelitian di perguruan tinggi Indonesia juga menyimpulkan bahwa doom spending berkaitan dengan tekanan emosional, perkembangan teknologi digital, serta perubahan gaya hidup generasi muda. Kemudahan berbelanja melalui aplikasi e-commerce menjadi salah satu faktor yang mempercepat munculnya perilaku konsumtif tersebut.
Cara Menghindari Doom Spending
Para ahli menyarankan masyarakat untuk mengenali pemicu emosional sebelum memutuskan membeli suatu barang. Menunda transaksi selama 24 jam dapat membantu membedakan apakah pembelian tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya didorong emosi sesaat.
Menyusun anggaran bulanan, membatasi paparan promosi di media sosial, serta memperkuat literasi keuangan juga menjadi langkah yang dinilai efektif mengurangi kebiasaan belanja impulsif. Jika kecemasan sudah memengaruhi aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi pilihan agar sumber masalah ditangani secara tepat.
Komentar