Frame Daily, MANGGARAI TIMUR – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memilih turun langsung ke wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sulit dijangkau.
Pada Jumat (21/8/2026), Gibran menggunakan sepeda motor untuk menuju Kampung Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Perjalanan dengan sepeda motor dilakukan dari persimpangan Jalan Poros Reok-Dampek. Akses menuju Kampung Waso menjadi salah satu jalur yang sulit ditembus setelah gempa mengguncang Flores.
Setibanya di lokasi, Gibran langsung mendatangi posko pengungsian. Ia berbincang dengan warga dan mendengarkan kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kerja Gibran di NTT untuk melihat langsung kondisi warga setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026).
Gibran tidak hanya berdialog dengan pengungsi, tetapi juga meminta pendataan kebutuhan warga dilakukan secara rinci, termasuk warga yang memiliki persoalan pendidikan dan pembiayaan.
Salah seorang pengungsi bahkan mendapat janji bantuan untuk biaya kuliah anaknya di Kupang.
“Ibu anaknya kuliah? Di Kupang? Nanti kami bantu,” kata Gibran kepada seorang pengungsi.
Dengarkan Keluhan Pengungsi
Di Kampung Waso, Gibran juga berbincang dengan staf Desa Satar Kampas, Muhammad Asgar.
Asgar mengatakan Gibran meminta pemerintah desa mendata kebutuhan warga secara rinci. Data tersebut mencakup warga yang memiliki utang di bank, mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan, hingga warga yang mendapatkan pembiayaan dari PNM.
“Tadi bapak minta data ril. Data warga yang punya utang di bank, yang pergi kuliah, yang PNM. Didata semua,” ujar Asgar.
Gibran juga berdialog dengan warga bernama Aisyah mengenai kondisi rumahnya yang terdampak gempa.
“Sudah didata?” tanya Gibran.
“Sudah,” jawab Aisyah.
Gibran kemudian meminta Aisyah untuk sementara tinggal di posko pengungsian.
“Tinggal di posko dulu sementara, ya, Bu,” ujar Gibran.
Percepat Rumah Sakit hingga Sekolah
Selain memastikan kondisi pengungsi, Gibran meminta jajaran terkait mempercepat pemulihan layanan dasar di wilayah terdampak.
Rumah sakit darurat menjadi salah satu fasilitas yang diminta segera disiapkan. Perbaikan irigasi, rumah ibadah, dan fasilitas pendidikan juga diminta dipercepat.
“Rumah Sakit Darurat itu penting, tadi ada lagi perbaikan irigasi, rumah ibadah, sekolah juga, dan itu harus dibangun dari nol,” kata Gibran.
Perhatian terhadap wilayah sulit dijangkau juga sebelumnya disampaikan Gibran saat meninjau penanganan gempa di Kabupaten Sikka, Kamis (20/8/2026).
Menurut Gibran, keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan mendesak harus menjadi prioritas. Ia meminta tidak ada warga terdampak yang luput dari bantuan, termasuk mereka yang tinggal di kawasan pegunungan atau wilayah dengan akses terbatas.

Gibran juga meminta kepala daerah dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah turun langsung memastikan setiap instruksi di lapangan berjalan.
Gempa M7,7 Guncang Flores
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026). BMKG menyebut gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar naik busur belakang Flores.
Dampaknya terasa di sejumlah wilayah Pulau Flores. Kerusakan terjadi pada rumah warga, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur lainnya.
Di Manggarai Timur, tercatat 24 orang meninggal dunia dan 19.803 warga mengungsi. Sebanyak 9.647 rumah mengalami kerusakan parah dan 1.034 fasilitas umum serta fasilitas pemerintah terdampak.
Sementara itu, secara keseluruhan NTT, BNPB mencatat 71 korban meninggal dunia hingga Rabu (19/8) malam dan jumlah pengungsi mencapai 59.647 orang. Sehari sebelumnya, Gibran juga mengunjungi sejumlah titik terdampak di Kabupaten Sikka. Ia mendatangi pengungsi, meninjau kerusakan Pelabuhan Laurentius Say, hingga melihat kondisi pasien di tenda perawatan darurat RSUD TC Hillers.
Rangkaian kunjungan tersebut menunjukkan upaya pemerintah memperpendek jarak dengan warga terdampak. Di Kampung Waso, langkah itu dilakukan dengan cara berbeda: Gibran turun dari kendaraan rombongan dan menggunakan sepeda motor untuk menembus akses yang sulit dijangkau.
Bagi warga di wilayah terpencil, kedatangan langsung pejabat pemerintah menjadi kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan yang tidak selalu terlihat dari laporan administratif.
Kunjungan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam masa tanggap darurat, akses menuju korban menjadi bagian penting dari penanganan bencana.
Komentar