BBM Bersubsidi Terancam Disalahgunakan, Pertamina Ajak Masyarakat Ikut Mengawasi

Pertamina mengajak masyarakat mengawasi BBM bersubsidi di tengah gangguan distribusi akibat sungai surut dan kemarau ekstrem di Kalimantan.

BBM Bersubsidi Terancam Disalahgunakan, Pertamina Ajak Masyarakat Ikut Mengawasi
Ilustrasi. Pertamina mengajak masyarakat mengawasi BBM bersubsidi di tengah gangguan distribusi akibat sungai surut dan kemarau ekstrem di Kalimantan. (FDN/AI)

Frame Daily, Cilacap - BBM bersubsidi seperti Pertalite dan biosolar menjadi perhatian Pertamina Patra Niaga di tengah gangguan distribusi energi akibat sungai surut di Kalimantan. Masyarakat diminta ikut mengawasi penyaluran agar bahan bakar tersebut tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan pengawasan diperlukan agar BBM bersubsidi tetap dapat diterima masyarakat yang membutuhkan. Ia juga mengimbau konsumen menggunakan bahan bakar secara bijak dan hemat.

“Harapannya, kita sama-sama mengawasi. Menggunakan BBM secara bijak, hemat,” ujar Roberth saat ditemui di sela-sela temu media di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (11/9), dikutip dari ANTARA.

Roberth menyoroti potensi penyalahgunaan BBM bersubsidi ketika jalur distribusi melalui sungai terganggu akibat kemarau ekstrem. Kondisi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan oknum untuk melakukan pembelian berulang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), kemudian menjual kembali dengan harga lebih tinggi.

“Jangan memanfaatkan dengan misalnya, jalur sungainya kering, kemudian terjadi pembelian berulang di SPBU, kemudian dijual kembali dengan harga mahal,” kata Roberth.

Praktik tersebut, menurut Roberth, merugikan masyarakat yang sedang menghadapi tekanan akibat kondisi cuaca ekstrem. Kebutuhan energi tetap harus dipenuhi, sehingga distribusi BBM bersubsidi perlu dijaga agar berjalan sesuai peruntukannya.

Distribusi BBM Terkendala Sungai Surut

Gangguan distribusi terjadi karena debit air sejumlah sungai di Kalimantan mengalami penurunan akibat musim kemarau panjang. Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, misalnya, mengalami penyusutan drastis hingga mengering di beberapa titik.

Kondisi ini berdampak langsung terhadap pengiriman bahan bakar yang selama ini mengandalkan jalur sungai. Kapal distribusi membutuhkan kedalaman air yang memadai agar dapat membawa pasokan menuju wilayah tujuan.

Roberth menyebut kondisi tersebut sebagai force majeure atau keadaan kahar. Pertamina Patra Niaga pun menyiapkan langkah alternatif untuk memastikan pasokan energi tetap bergerak.

“Kami harus melakukan yang namanya contingency plan. Yang sebelumnya disalurkan melalui kapal, maka harus disalurkan melalui mobil tangki,” ujar Roberth.

Peralihan moda transportasi dilakukan untuk mengantisipasi dampak sungai yang surut. Mobil tangki digunakan untuk mengangkut pasokan melalui jalur darat menuju daerah yang terdampak gangguan distribusi.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan BBM di tengah kondisi geografis dan cuaca yang tidak mendukung. Pertamina juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena dapat mengganggu akses konsumen lainnya.

Pemerintah Tambah Truk Pengangkut BBM

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya mengidentifikasi persoalan kelangkaan BBM di Kalimantan berkaitan dengan kondisi sungai yang surut. Hambatan tersebut membuat kapal pengangkut energi tidak dapat beroperasi secara optimal.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan mitigasi dilakukan dengan memperbanyak truk pengiriman BBM melalui jalur darat. Strategi tersebut diharapkan menjaga pasokan energi ke wilayah yang mengalami kendala distribusi.

Kapasitas angkutan darat tetap menghadapi keterbatasan dibandingkan transportasi sungai. Laode mengakui volume BBM yang dapat dibawa truk tidak sebesar angkutan menggunakan kapal.

Situasi ini membuat pengawasan penyaluran menjadi semakin penting. Masyarakat diharapkan membeli sesuai kebutuhan dan melaporkan indikasi penyalahgunaan kepada pihak terkait.

Roberth menilai praktik pembelian berulang untuk dijual kembali sangat disayangkan karena masyarakat sedang membutuhkan energi di tengah dampak El Nino. “Ini kami sangat menyayangkan, bagaimana masyarakat sudah berhadapan dengan El Nino, mereka butuh energi, tapi kemudian ada pihak-pihak yang justru memanfaatkan,” ujarnya.

Pertamina Patra Niaga memastikan upaya distribusi alternatif terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan. Koordinasi antara pemerintah, Pertamina, dan masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga kelancaran pasokan BBM di wilayah terdampak kemarau ekstrem.

Ditulis oleh Indah Susilo

Komentar