5 Website untuk Pantau Karhutla di Indonesia Secara Real Time

Lima website ini bisa digunakan untuk memantau hotspot dan kebakaran hutan di Indonesia. Simak fungsi dan cara membaca datanya.

5 Website untuk Pantau Karhutla di Indonesia Secara Real Time
Masyarakat bisa memantau perkembangan hotspot karhutla melalui sejumlah platform digital. Berikut lima layanan dan cara menggunakannya. (ilustrasi: Frame Daily)

Frame Daily, jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan dapat memantau indikasi kemunculan titik panas melalui sejumlah layanan digital yang memanfaatkan data satelit.

Informasi tersebut berguna sebagai peringatan awal, terutama untuk mengetahui apakah terdapat aktivitas panas di sekitar suatu wilayah. Namun, satu hal penting perlu dipahami: hotspot bukan berarti otomatis terjadi kebakaran karena satelit mendeteksi anomali suhu, bukan memastikan kondisi di lapangan.

Berikut lima platform yang dapat digunakan untuk memantau perkembangan hotspot dan kebakaran hutan di Indonesia.

1. SiPongi+

SiPongi+ merupakan sistem informasi pemerintah untuk pemantauan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Platform ini menyediakan peta persebaran hotspot di Indonesia yang dapat ditelusuri berdasarkan wilayah.

Salah satu informasi yang ditampilkan adalah tingkat confidence deteksi hotspot. Pada peta SiPongi+, warna hijau menunjukkan tingkat keyakinan 0–29 persen, kuning 30–79 persen, dan merah 80–100 persen. Pengguna juga dapat memilih provinsi serta melihat detail titik panas yang muncul.

Cocok untuk: memantau kondisi hotspot Indonesia dari sumber resmi pemerintah.

2. NASA FIRMS

NASA menyediakan Fire Information for Resource Management System (FIRMS) untuk memantau aktivitas kebakaran dan anomali panas berdasarkan pengamatan satelit.

FIRMS menyediakan data dari sejumlah instrumen, termasuk MODIS dan VIIRS, serta peta global yang dapat digunakan untuk melihat lokasi deteksi kebakaran. Data near real-time juga tersedia, sehingga platform ini berguna untuk pemantauan perkembangan terbaru.

Namun, NASA menegaskan bahwa titik yang muncul merupakan active fire/thermal anomalies. Deteksi tersebut dapat berasal dari kebakaran atau sumber panas lainnya sehingga tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa seluruh area sedang terbakar.

Cocok untuk: pengguna yang ingin melihat data hotspot berbasis satelit dengan cakupan global.

3. Citra Polar Hotspot BMKG

BMKG juga memiliki layanan Citra Polar Hotspot untuk memantau persebaran titik panas di Indonesia.

Data tersebut menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada sejumlah satelit polar, termasuk NOAA-20, Suomi-NPP, Terra dan Aqua. Pengamatan dilakukan pada siang dan malam hari untuk membantu melihat indikasi anomali panas di berbagai wilayah.

Pengguna dapat memilih wilayah yang ingin dipantau dan melihat citra hotspot terbaru. BMKG juga menyediakan informasi lain yang relevan dengan karhutla, seperti sebaran asap dan sejumlah indeks kondisi cuaca yang berkaitan dengan potensi kebakaran.

Cocok untuk: memantau hotspot sekaligus melihat konteks cuaca dan potensi karhutla.

4. Google Maps

Google Maps dapat digunakan untuk melihat informasi wildfires atau kebakaran hutan pada wilayah yang didukung.

Caranya cukup membuka Google Maps, memilih menu Layers/Lapisan, kemudian mencari opsi Wildfires/Kebakaran Hutan. Jika tersedia, pengguna dapat melihat penanda kebakaran pada peta dan memperbesar lokasi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Layanan ini berbeda dengan SiPongi+ atau FIRMS. Google Maps lebih berguna untuk melihat informasi kebakaran yang telah tersedia dalam sistemnya, sementara platform hotspot berbasis satelit menampilkan hasil deteksi sensor.

Cocok untuk: pengguna umum yang ingin melihat informasi kebakaran langsung dari aplikasi peta.

5. Nusantara Atlas

Nusantara Atlas menawarkan peta interaktif dengan informasi mengenai kebakaran, tutupan hutan dan dinamika lanskap Indonesia.

Kelebihannya ada pada konteks wilayah. Informasi dapat dilihat dari skala nasional hingga kawasan yang lebih spesifik, termasuk wilayah administratif, kawasan lindung dan konsesi.

Dengan demikian, Nusantara Atlas tidak hanya membantu melihat lokasi aktivitas kebakaran, tetapi juga memberikan gambaran mengenai di mana kebakaran terjadi dan berada dalam konteks lanskap seperti apa.

Cocok untuk: pembaca yang membutuhkan konteks lebih dalam mengenai lokasi kebakaran.

Jangan Langsung Anggap Hotspot sebagai Kebakaran

Kelima platform tersebut tidak sepenuhnya memiliki fungsi yang sama. SiPongi+ dan BMKG kuat untuk pemantauan Indonesia, FIRMS menawarkan data satelit dengan cakupan global, Google Maps lebih sederhana untuk pengguna umum, sementara Nusantara Atlas memberikan konteks lanskap yang lebih luas.

Yang paling penting, titik hotspot sebaiknya dibaca sebagai indikasi awal. Sensor satelit mendeteksi anomali panas pada suatu area dan hasilnya dapat dipengaruhi tutupan awan, resolusi sensor, posisi satelit, maupun sumber panas lain. BMKG juga menjelaskan bahwa hotspot tidak dapat terdeteksi pada wilayah yang tertutup awan atau berada dalam blank zone.

Karena itu, masyarakat sebaiknya membandingkan informasi dari platform pemantauan dengan kondisi lapangan, informasi kualitas udara, cuaca, serta keterangan resmi pemerintah atau petugas penanganan karhutla.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar