17 Perjalanan KRL Jabodetabek Dibatalkan, Penumpang Terdampak

Perjalanan KRL Jabodetabek mengalami penyesuaian hingga akhir September. Sebanyak 17 perjalanan dibatalkan sementara akibat perawatan rangkaian.

17 Perjalanan KRL Jabodetabek Dibatalkan, Penumpang Terdampak
Sebanyak 17 perjalanan KRL Jabodetabek disesuaikan hingga 30 September 2026 akibat perawatan rangkaian. Penumpang diminta atur ulang jadwal. (Ilustrasi/AI/framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta - Perjalanan KRL Jabodetabek mengalami penyesuaian hingga akhir September 2026. Sebanyak 17 perjalanan Commuter Line dibatalkan sementara karena sejumlah rangkaian KRL menjalani perawatan intensif.

Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 7 September hingga 30 September 2026. Dampaknya, jumlah perjalanan KRL Jabodetabek yang beroperasi setiap hari berkurang dari 1.065 menjadi 1.048 perjalanan.

Kondisi tersebut membuat pengguna, terutama penumpang pada jam sibuk pagi serta sore hingga malam hari, perlu menyesuaikan kembali waktu keberangkatan. KAI Commuter juga mengimbau masyarakat memantau informasi perjalanan sebelum berangkat.

17 Perjalanan KRL Disesuaikan

Penyesuaian perjalanan terjadi pada sejumlah relasi KRL Jabodetabek. Pada pagi hari, terdapat tujuh perjalanan dari Bogor, Cilebut, dan Depok menuju Manggarai atau Jakarta Kota yang disesuaikan.

Selain itu, lima perjalanan dari Jakarta Kota menuju Bogor juga terdampak. Sementara pada sore hingga malam hari, dua perjalanan dari Manggarai menuju Bogor serta tiga perjalanan dari arah Bogor mengalami penyesuaian.

Dengan pengurangan tersebut, pengguna pada lintas yang terdampak berpotensi menghadapi waktu tunggu lebih panjang, terutama ketika perjalanan dilakukan pada jam sibuk. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan kepadatan pada perjalanan berikutnya.

Perawatan Rangkaian Jadi Penyebab

VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengatakan penyesuaian dilakukan karena jumlah sarana yang dapat dioperasikan harus disesuaikan selama proses perawatan berlangsung.

Menurut KAI Commuter, sejumlah rangkaian sedang menjalani perawatan secara intensif untuk memastikan keselamatan dan keamanan perjalanan. Perawatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga performa sarana KRL.

Saat ini kami melakukan proses perawatan rangkaian sarana KRL yang ada secara intensif, demi keselamatan dan keamanan perjalanan,” ujar Karina dalam keterangan resmi nya, KAI Commuter.

KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan selama proses penyesuaian perjalanan tersebut.

Perawatan Infrastruktur Juga Berlangsung

Di tengah penyesuaian perjalanan KRL, pemeliharaan infrastruktur elektrifikasi juga berlangsung di wilayah Jabodetabek.

KAI Properti melakukan pemeliharaan Listrik Aliran Atas (LAA) sepanjang 513,926 kilometer di wilayah Daop 1 Jakarta. Pekerjaan tersebut mencakup 15 resor dan melibatkan 78 pekerja.

Pemeliharaan dilakukan sepanjang tahun dengan menyesuaikan jadwal operasional KRL. KAI Properti juga melakukan penggantian 180 isolator pada sejumlah petak jalur, dengan progres pekerjaan dilaporkan sekitar 70 persen.

Meski demikian, pengurangan 17 perjalanan yang berlaku 7–30 September berkaitan dengan perawatan rangkaian KRL, bukan disebut sebagai akibat langsung dari pemeliharaan LAA. Pemisahan informasi ini penting agar penyebab penyesuaian perjalanan tidak keliru dipahami.

Penumpang Diminta Atur Ulang Waktu Berangkat

Dengan berkurangnya jumlah perjalanan, pengguna KRL Jabodetabek disarankan mengecek jadwal sebelum menuju stasiun. Penumpang yang memiliki jadwal kerja, kuliah, penerbangan, atau perjalanan lanjutan juga perlu menyediakan waktu cadangan.

KAI Commuter meminta pengguna memantau informasi terbaru melalui pengumuman di stasiun, informasi di dalam kereta, aplikasi C-Access, serta kanal resmi KAI Commuter.

Penyesuaian ini bersifat sementara dan dijadwalkan berlangsung hingga 30 September 2026. Setelah proses perawatan selesai dan ketersediaan rangkaian kembali normal, pola perjalanan akan disesuaikan kembali berdasarkan kondisi operasional.

Bagi pengguna KRL Jabodetabek, perubahan tersebut berarti perjalanan yang biasanya mengandalkan jadwal tetap perlu direncanakan lebih fleksibel. Terutama pada jam sibuk, penumpang perlu memperhitungkan kemungkinan waktu tunggu dan kepadatan yang lebih tinggi pada perjalanan berikutnya.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar