Soetta Masih Ditutup, 202 Penerbangan Terdampak Erupsi

Bandara Soetta masih ditutup hingga 13.30 WIB akibat abu vulkanik Anak Krakatau. Kemenhub mencatat 202 penerbangan terdampak hingga 10.35 WIB.

Soetta Masih Ditutup, 202 Penerbangan Terdampak Erupsi
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menyebar di wilayah udara dan berdampak pada operasional Bandara Soekarno-Hatta. Sebanyak 202 penerbangan di Soetta terdampak. (Photo by Edwin Petrus / Unsplash)

Frame Daily, Tangerang - Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, masih terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026). Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memperpanjang penutupan operasional bandara hingga pukul 13.30 WIB berdasarkan NOTAM A3346/26.

Perkembangan terbaru menunjukkan dampak penerbangan terus bertambah. Hingga pukul 10.35 WIB, Kemenhub mencatat 202 penerbangan terdampak di Soetta, terdiri atas 167 pembatalan, 16 keterlambatan, tujuh penundaan, empat pengalihan, serta sejumlah penerbangan yang sudah mendarat, berangkat, kembali ke pangkalan, dan terdampak dalam status operasional lainnya.

Kondisi tersebut terjadi ketika BMKG masih menemukan sebaran abu vulkanik pada beberapa lapisan atmosfer. Analisis citra satelit pukul 08.00 WIB menunjukkan dua klaster abu yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Soetta Ditutup hingga Pukul 13.30 WIB

Kemenhub menyatakan Soetta memperpanjang penutupan operasional mulai pukul 08.30 WIB hingga 13.30 WIB melalui NOTAM A3346/26 yang menggantikan NOTAM A3344/26. Perubahan tersebut dilakukan berdasarkan perkembangan kondisi abu vulkanik dan hasil koordinasi dengan pihak terkait.

Kemenhub terus melakukan pemantauan bersama operator penerbangan, pengelola bandara, layanan navigasi penerbangan, BMKG, serta pemangku kepentingan lainnya. Pemulihan penerbangan akan dilakukan secara dinamis dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi ruang udara dan aspek keselamatan.

Penutupan tidak hanya terjadi di Soetta. Kemenhub mencatat Bandara Halim Perdanakusuma dan Radin Inten II juga memperpanjang penutupan operasional hingga pukul 14.00 WIB, sedangkan Bandara Budiarto memperpanjang penutupan hingga pukul 13.30 WIB. Bandara Pondok Cabe juga ditutup sementara hingga pukul 14.00 WIB.

202 Penerbangan Soetta Terdampak

Hingga pukul 10.35 WIB, sebanyak 202 penerbangan di Soetta terdampak akibat penutupan operasional. Dari jumlah tersebut, 167 penerbangan dibatalkan dan 16 lainnya mengalami keterlambatan.

Selain itu, tujuh penerbangan berstatus postpone dan empat penerbangan dialihkan. Kemenhub juga mencatat terdapat penerbangan yang sudah mendarat, berangkat, kembali ke pangkalan, serta berada dalam status operasional lain akibat kondisi ruang udara dan bandara.

Jika digabungkan dengan bandara terdampak lainnya, Kemenhub mencatat 373 penerbangan terdampak hingga pukul 10.35 WIB. Angka tersebut mencakup penerbangan di Soetta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, serta penerbangan lain yang memiliki rute menuju atau berasal dari bandara terdampak.

Dampak tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap jadwal penerbangan. Penyesuaian tidak hanya menyangkut keberangkatan saat bandara ditutup, tetapi juga rotasi pesawat, jadwal penerbangan berikutnya, ketersediaan armada, dan penanganan penumpang.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar, Lima Provinsi Terdampak Frame Daily
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke lima provinsi. Badan Geologi mengimbau warga waspada dan mengikuti informasi resmi pemerintah.Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

BMKG Temukan Dua Klaster Abu Vulkanik

BMKG mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer serta penerbangan. Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu pukul 08.00 WIB, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan sebaran abu terpantau hingga ketinggian 20.000 kaki dan 50.000 kaki. Abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan wilayah perairan sekitarnya.

Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebaran tersebut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda, serta Samudra Hindia.

Kondisi atmosfer tersebut menjadi faktor penting dalam keputusan operasional penerbangan. Posisi dan pergerakan abu dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer sehingga pemantauan dilakukan secara berkala.

BMKG Terbitkan 50 SIGMET

Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta menerbitkan SIGMET pertama setelah erupsi awal pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB. Hingga Minggu, BMKG telah menerbitkan 50 SIGMET secara berkala untuk mendukung keselamatan navigasi udara.

SIGMET menjadi salah satu instrumen informasi keselamatan penerbangan ketika terdapat fenomena cuaca atau kondisi atmosfer yang berpotensi memengaruhi operasi pesawat. Dalam kasus Anak Krakatau, informasi tersebut digunakan bersama informasi abu vulkanik dan produk penerbangan lainnya.

BMKG juga menyebut penerbitan NOTAM oleh AirNav Indonesia melengkapi peringatan dini Volcanic Ash Advisory dan SIGMET. Koordinasi tersebut memungkinkan informasi mengenai perubahan kondisi ruang udara diteruskan kepada pemangku kepentingan penerbangan secara cepat.

Keputusan penutupan sejumlah bandara merupakan hasil koordinasi lintas pihak. BMKG menyebut proses tersebut melibatkan otoritas penerbangan, AirNav Indonesia, pengelola bandara, dan pihak terkait dengan keselamatan penerbangan.

Penumpang Diminta Tidak Datang ke Bandara

Kemenhub mengimbau calon penumpang yang akan melakukan perjalanan melalui bandara terdampak untuk tidak datang ke bandara selama periode penutupan. Penumpang diminta memantau informasi terbaru dari maskapai mengenai status penerbangan masing-masing.

Maskapai juga diwajibkan memenuhi hak penumpang yang terdampak sesuai ketentuan yang berlaku. Penanganan mencakup pemberian informasi mengenai perubahan status penerbangan serta pilihan penanganan bagi penumpang yang perjalanannya terdampak.

Kemenhub menegaskan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi prioritas dalam setiap keputusan operasional. Pemulihan penerbangan akan disesuaikan dengan perkembangan sebaran abu vulkanik dan hasil koordinasi bersama BMKG serta pihak terkait.

Sementara itu, BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan menyaring informasi yang beredar. Pembaruan mengenai kondisi erupsi, penerbangan, dan atmosfer diimbau mengikuti saluran resmi pemerintah dan instansi berwenang.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar