Frame Daily, Arab Saudi - Pelaksanaan ibadah haji 2026 kembali menuai sorotan. Ribuan jemaah Indonesia dilaporkan mengalami penumpukan di sejumlah terminal transportasi di Makkah hingga memicu antrean panjang, desak-desakan, dan keterlambatan mobilitas jemaah di tengah cuaca panas ekstrem.
Situasi paling parah terjadi di Terminal Al-Hidayah, terminal bayangan yang sempat ditutup selama dua hari. Penutupan tersebut membuat ribuan jemaah tertahan berjam-jam sambil menunggu kepastian operasional terminal.
Terminal Al-Hidayah Ditutup Dua Hari
Masalah transportasi disebut menjadi salah satu persoalan serius dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Ketika Terminal Al-Hidayah belum dibuka, arus kedatangan jemaah terus berlangsung sehingga kepadatan tak terhindarkan.
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, , mengungkap bahwa operasional Terminal Al-Hidayah masih bergantung pada koordinasi antara Kementerian Haji Arab Saudi dan pihak terkait lainnya.
Akibat belum beroperasinya terminal tersebut, sekitar 21 ribu jemaah disebut sudah lebih dahulu memadati lokasi. Kondisi itu memicu antrean panjang hingga desak-desakan antarjemaah.
“Jemaah sudah menumpuk, baru siang harinya terminal itu beroperasi. Penumpukannya sampai orang berdesak-desakan karena gelombang satu dan gelombang dua,” ujar Selly.
Ribuan Jemaah Tertahan di Tengah Cuaca Panas
Penumpukan jemaah terjadi saat suhu di Makkah sedang tinggi. Banyak jemaah terpaksa menunggu dalam waktu lama di area terminal dengan kondisi mobilitas yang padat.
Gelombang kedatangan dan perpindahan jemaah yang berlangsung bersamaan membuat situasi semakin semrawut. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan hingga ritme ibadah para jemaah Indonesia.
Tak hanya di Terminal Al-Hidayah, kepadatan serupa juga terjadi di Terminal Syib Amir yang merupakan terminal resmi operasional jemaah haji Indonesia.
DPR Minta Evaluasi Total Sistem Transportasi Haji
Sebagai bagian dari Tim Pengawas Haji DPR RI, Selly A Gantina meminta pemerintah Arab Saudi dan penyelenggara haji Indonesia segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem transportasi haji.
Evaluasi itu mencakup kesiapan terminal cadangan, pola distribusi transportasi jemaah, hingga koordinasi lintas otoritas yang dinilai masih belum optimal.
Menurutnya, komunikasi antara pemerintah Indonesia dengan Kementerian Haji Arab Saudi harus diperkuat agar persoalan serupa tidak terus terulang setiap musim haji.
Selly menegaskan bahwa persoalan kepadatan terminal tidak bisa lagi dianggap sekadar kendala teknis biasa. Perencanaan mobilitas jemaah perlu disiapkan lebih matang mengingat jumlah jemaah Indonesia yang sangat besar setiap tahunnya.
Transportasi Jadi Catatan Penting Haji 2026
Kepadatan terminal di Makkah menjadi salah satu catatan penting dalam pelaksanaan haji 2026. Ribuan jemaah yang tertahan di tengah cuaca panas menunjukkan perlunya sistem transportasi yang lebih siap, terintegrasi, dan responsif terhadap lonjakan pergerakan jemaah.
Evaluasi menyeluruh diharapkan mampu mencegah kejadian serupa agar pelaksanaan ibadah haji berikutnya berjalan lebih tertib dan nyaman bagi seluruh jemaah Indonesia.
Komentar