Frame Daily, Surabaya — Di balik deru modernisasi Kota Surabaya, terdapat satu kuliner tradisional legendaris yang terus bertahan melintasi zaman, yaitu Semanggi Surabaya. Makanan khas berbahan dasar daun paku air ini tidak hanya menawarkan cita rasa gurih manis yang unik, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh.
Keberadaan penjaja semanggi yang membawa gendongan bambu di sudut-sudut Kota Pahlawan menjadi pemandangan ikonik. Hidangan sederhana ini berhasil mempertahankan eksistensinya di tengah gempuran kuliner modern dan makanan cepat saji yang makin menjamur.
Asal Usul dan Budidaya Tanaman Semanggi di Surabaya
Tanaman semanggi (Marsilea crenata) merupakan tumbuhan paku air yang tergolong dalam suku Marsileaceae. Tumbuhan paku air ini tumbuh subur di area lahan basah seperti persawahan dan saluran air yang dangkal.
Di wilayah Surabaya dan sekitarnya, pusat budidaya tanaman semanggi paling terkenal berada di kawasan Kampung Semanggi, Kelurahan Kendung, Benowo. Menurut artikel ilmiah berjudul "Keberadaan Budidaya Semanggi di Desa Kendung Surabaya" yang dipublikasikan oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa), tradisi menanam dan menjual semanggi di kawasan barat Surabaya ini telah berlangsung secara turun-temurun sejak era 1950-an.
Dari sisi budidaya, tanaman semanggi termasuk tumbuhan yang relatif cepat dipanen. Petani hanya membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 4 minggu atau 21 sampai 30 hari setelah masa tanam untuk siap melakukan pemetikan pertama. Setelah pemetikan awal, daun semanggi dapat tumbuh kembali dan dipanen berkali-kali selama ketersediaan air di lahan tetap terjaga.
Cara Mengolah dan Penyajian Unik dengan Kerupuk Puli
Mengolah semanggi memerlukan ketelitian tinggi agar tekstur daun tetap renyah dan tidak lembek saat disantap. Langkah umum pengolahan dimulai dari tahap pembersihan, di mana daun dan tangkai muda semanggi dicuci bersih dari sisa lumpur persawahan.
Proses dilanjutkan dengan pengukusan atau perebusan singkat dalam air mendidih selama 1 hingga 2 menit saja. Durasi masak yang singkat ini sangat krusial untuk menjaga warna hijau alami serta kesegaran tekstur daunnya.
Keunikan utama Semanggi Surabaya terletak pada bumbu pelengkap dan tata cara menyantapnya. Bumbu semanggi tidak menggunakan kacang tanah sepenuhnya seperti gado-gado atau pecel, melainkan berbahan dasar ketela rambat atau ubi jalar yang dihaluskan bersama petis udang, gula merah, dan sedikit kacang tanah rebus.
Satu porsi semanggi disajikan secara tradisional di atas pincuk daun pisang, ditambahi kangkung dan kecambah rebus sebagai pelengkap. Uniknya lagi, hidangan ini tidak dimakan menggunakan sendok besi, melainkan memanfaatkan kerupuk puli (kerupuk beras lempeng berwarna kuning cerah) sebagai pengganti sendok atau sedu.
Kandungan Nutrisi dan Manfaat Kesehatan Tanaman Semanggi
Tidak hanya lezat dan kaya nilai tradisi, daun semanggi mengandung berbagai senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Berdasarkan jurnal riset berjudul "Uji Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Nutrisi Tanaman Semanggi (Marsilea crenata)" dari platform publikasi Situs Online Jurnal Farmasi Indonesia, tanaman semanggi kaya akan isoflavon, fitoestrogen, serat, dan kalsium.
Kandungan nutrisi melimpah tersebut menjadikan semanggi sebagai asupan pangan lokal yang menyehatkan. Beberapa manfaat kesehatan dari mengonsumsi semanggi antara lain:
- Membantu Mencegah Osteoporosis: Kandungan kalsium dan senyawa fitoestrogen membantu menjaga kepadatan tulang, khususnya bagi wanita purna menopause.
- Meredakan Demam dan Panas Dalam: Secara tradisional, ekstrak daun semanggi digunakan masyarakat sebagai peluruh air seni (diuretik) dan penurun panas alami.
- Kaya Antioksidan: Senyawa flavonoid pada semanggi berfungsi melawan radikal bebas serta menjaga daya tahan tubuh secara optimal.
Hingga kini, Semanggi Surabaya tetap menjadi simbol kearifan lokal yang tidak hanya memanjakan lidah para penikmat kuliner, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh. Upaya pelestarian dari petani lokal serta pelaku UMKM kuliner membuat cita rasa khas Kota Pahlawan ini terus lestari hingga masa mendatang.
Komentar