Pratikno: Peringatan Dini Tak Berguna Tanpa Aksi Cepat

Pratikno menegaskan peringatan dini harus diikuti aksi cepat. Karhutla hingga kebakaran kapal menunjukkan pentingnya respons dalam mengurangi risiko bencana.

Pratikno: Peringatan Dini Tak Berguna Tanpa Aksi Cepat
Menko PMK Pratikno menyampaikan pernyataan pers dalam pembukaan EDRR Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pratikno menekankan pentingnya aksi cepat dalam merespons peringatan dini. (Foto: Frame Daily/Senida)

Frame Daily, Jakarta – Sistem peringatan dini yang semakin canggih dinilai tidak akan banyak berarti jika informasi yang dihasilkan terlambat direspons. Kecepatan mengambil tindakan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko dan menyelamatkan masyarakat ketika ancaman bencana muncul.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menekankan hal tersebut saat membuka Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

“Peringatan dini itu sangat penting, tetapi aksi cepat untuk merespons peringatan dini juga sangat-sangat penting,” kata Pratikno.

Menurut dia, perkembangan teknologi telah meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi berbagai ancaman. Namun, informasi yang tersedia harus diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan.

“Peringatan dini hanya bermakna jika diikuti dengan aksi dini,” ujarnya.

Karhutla Jadi Ancaman di Musim Kering

Pentingnya respons cepat terlihat dari meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kondisi kering.

BNPB mencatat kejadian bencana pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026 didominasi karhutla dan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.

Pada periode 31 Juli pukul 07.00 WIB hingga 1 Agustus pukul 07.00 WIB, BNPB mencatat 34 kejadian bencana, dengan 31 kejadian berdampak signifikan. Sejumlah kejadian baru didominasi karhutla dan kekeringan. 

Salah satunya terjadi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. BPBD setempat melaporkan cuaca sangat terik membuat lahan mudah terbakar dan api cepat menjalar. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa informasi cuaca dan potensi kebakaran perlu diikuti kesiapan personel, peralatan serta tindakan sebelum api meluas.

Pratikno juga mengingatkan bahwa teknologi tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menghasilkan analisis.

“Jangan sampai teknologi canggih hanya untuk kita baca analisisnya, hanya untuk kita pajang, tetapi informasi yang diberikan oleh teknologi itu harus diikuti dengan aksi cepat merespons peringatan dini dalam rangka menyelamatkan warga,” katanya.

Kebakaran Kapal Tunjukkan Pentingnya Respons Darurat

Kebutuhan respons cepat juga terlihat dalam kecelakaan transportasi laut.

Pada awal Agustus, KMP Mutiara Sentosa 2 terbakar di perairan Sumenep, Madura, ketika dalam perjalanan dari Surabaya menuju Makassar.

Operasi penyelamatan melibatkan sejumlah kapal yang berada di sekitar lokasi. Dalam perkembangan evakuasi yang sebelumnya dihimpun Frame Daily, 218 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan empat orang meninggal dunia.

Peristiwa tersebut memperlihatkan pentingnya kecepatan komunikasi, pencarian dan pertolongan ketika keadaan darurat terjadi jauh dari daratan.

Dalam konteks penanganan bencana yang lebih luas, Pratikno menyebut respons tidak berhenti pada pencarian dan penyelamatan. Layanan kesehatan, pangan, energi, infrastruktur, transportasi dan logistik juga harus mampu bergerak ketika bencana terjadi.

Teknologi, menurut dia, harus digunakan untuk mempercepat kemampuan tersebut.

“Banyak sekali jenis bencana yang bisa diminimalkan risikonya dengan cara bergerak cepat untuk merespons peringatan dini,” ujar Pratikno.

EDRR Indonesia 2026 berlangsung pada 12–14 Agustus 2026. Pameran tersebut menghadirkan teknologi mitigasi, penyelamatan dan penanganan keadaan darurat, sekaligus menjadi ruang pertemuan pemerintah, industri dan berbagai pihak yang bergerak di bidang kebencanaan.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar