Muktamar NU 2026: 9 Kiai Terpilih AHWA, Siapa Pegang Kunci Ketum PBNU?

Sembilan kiai terpilih menjadi AHWA Muktamar NU 2026. KH Nurul Huda Jazuli meraih 485 suara, tertinggi dalam tabulasi.

Muktamar NU 2026: 9 Kiai Terpilih AHWA, Siapa Pegang Kunci Ketum PBNU?
Foto NU Online/AI/framedaily.id

Frame Daily, Jombang - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memasuki fase krusial dalam penentuan kepemimpinan PBNU masa khidmat 2026–2031. Sebanyak sembilan kiai dengan perolehan suara tertinggi telah ditetapkan sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Mereka kini memegang mandat penting dalam proses penentuan Rais Aam PBNU, sekaligus menjadi bagian dari mekanisme baru pemilihan Ketua Umum PBNU yang disepakati dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Nurul Huda Jazuli Raih Suara Tertinggi

Berdasarkan hasil tabulasi suara, KH Nurul Huda Jazuli berada di posisi teratas dengan 485 suara.

Di posisi kedua terdapat TGK KH Nuruzzahri Yahya dengan 477 suara. Selanjutnya AG Dr KH Baharuddin HS memperoleh 392 suara.

Berikut daftar lengkap sembilan anggota AHWA berdasarkan perolehan suara:

Peringkat Nama Suara
1 KH Nurul Huda Jazuli 485
2 TGK KH Nuruzzahri Yahya 477
3 AG Dr KH Baharuddin HS 392
4 KH Miftachul Akhyar 350
5 KH Afifuddin Muhajir 339
6 KH Anwar Iskandar 326
7 KH Anwar Manshur 303
8 KH Said Aqil Siroj 273
9 KH Abun Bunyamin 268

Sumber : NU Online

Hasil tersebut menempatkan sembilan ulama tersebut sebagai anggota AHWA Muktamar ke-35 NU. Mereka selanjutnya akan menjalankan mandat untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU.

Artikel terkait : Muktamar NU Ricuh, Pendukung Gus Yusuf Demo Tolak Masa Jeda Politik

Bukan Suara untuk Ketua Umum

Perlu ditegaskan, angka 485, 477, 392, dan seterusnya merupakan perolehan suara dalam pemilihan anggota AHWA, bukan perolehan suara calon Ketua Umum PBNU. Hal ini penting karena mekanisme pemilihan Ketum PBNU berubah setelah Muktamar ke-35 NU menyepakati penggunaan sistem AHWA.

Dalam voting mengenai perubahan mekanisme tersebut, dari 552 suara dalam daftar pemilih tetap, 401 suara menyetujui penggunaan AHWA, 150 suara menginginkan mekanisme one man one vote tetap dipertahankan, dan satu suara dinyatakan tidak sah. Dengan keputusan itu, proses pemilihan pimpinan PBNU memasuki mekanisme yang berbeda dibandingkan sistem pemilihan langsung.

9 Kiai Kini Pegang Kunci Tahap Berikutnya

Setelah sembilan anggota AHWA ditetapkan, mereka akan bersidang untuk menentukan Rais Aam PBNU masa khidmat 2026–2031. Tahapan tersebut menjadi salah satu bagian terpenting sebelum proses penentuan Ketua Umum PBNU. Laporan terbaru menyebut sembilan anggota AHWA segera bersidang untuk menetapkan Rais Aam sebelum proses pemilihan Ketua Umum dimulai. Artinya, perhatian Muktamirin kini bergeser dari proses pemilihan anggota AHWA menuju musyawarah sembilan kiai tersebut.

Siapa Kandidat Ketua Umum?

Bursa Ketua Umum PBNU sebelumnya diwarnai sejumlah nama. Di antaranya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, yang merupakan Ketua PWNU Jawa Timur. Seperti yang di ketahui bahwa sampai tahap ini, belum tepat menyebut salah satu nama sebagai Ketua Umum PBNU terpilih. Proses penentuan masih mengikuti mekanisme yang telah disepakati Muktamar.

Perubahan mekanisme menjadi AHWA juga membuat hasil pemilihan sembilan kiai tersebut memiliki arti strategis. Mereka bukan sekadar daftar ulama dengan suara tertinggi, tetapi menjadi bagian dari forum yang akan menentukan arah kepemimpinan NU lima tahun ke depan.

Penentuan Ketum PBNU Ditunggu

Muktamar ke-35 NU masih berlangsung di Jombang. Setelah penetapan AHWA, agenda berikutnya adalah musyawarah untuk menentukan Rais Aam dan kemudian proses penentuan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Dengan demikian, belum ada suara resmi yang dapat disebut sebagai perolehan suara kandidat Ketua Umum PBNU. Yang sudah resmi adalah komposisi sembilan anggota AHWA dan perolehan suara mereka.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar