Mengapa Waktu Terasa Semakin Cepat Saat Kita Bertambah Usia?

Mengapa waktu terasa semakin cepat seiring usia? Sains menunjukkan peran memori, perhatian, pengalaman baru, dan perubahan fungsi kognitif.

Mengapa Waktu Terasa Semakin Cepat Saat Kita Bertambah Usia?
Persepsi manusia terhadap waktu dipengaruhi oleh perhatian, pengalaman, memori, dan proses kognitif, sehingga perjalanan waktu dapat terasa berbeda seiring bertambahnya usia.(Ilustrasi/AI/framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta - Ada satu pengalaman yang mungkin terasa akrab: masa sekolah dulu seperti berlangsung begitu panjang, sementara beberapa tahun terakhir seolah berlalu tanpa terasa. Senin baru saja dimulai, tiba-tiba sudah akhir pekan. Kalender berganti, usia bertambah, lalu muncul pertanyaan sederhana yang sebenarnya menyimpan persoalan ilmiah: apakah waktu benar-benar terasa lebih cepat ketika manusia semakin tua?

Jam tidak berubah kecepatannya. Satu menit tetap terdiri dari 60 detik, dan satu tahun tetap memiliki panjang yang sama. Yang berubah adalah cara manusia mengalami, memperhatikan, menyimpan, dan mengingat perjalanan waktu. Dalam psikologi dan ilmu saraf, pengalaman tersebut dikenal sebagai subjective time atau waktu subjektif, yaitu bagaimana seseorang mempersepsikan durasi dan perjalanan waktu dari sudut pandangnya sendiri.

Penelitian menunjukkan fenomena itu memang ada, terutama ketika manusia diminta melihat kembali rentang waktu yang panjang seperti beberapa tahun atau satu dekade. Akan tetapi, penjelasannya tidak sesederhana anggapan bahwa otak “mempercepat jam” ketika usia bertambah.

Waktu yang berjalan dan waktu yang kita rasakan bukan hal yang sama

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia menggunakan jam sebagai ukuran objektif. Otak tidak memiliki jam mekanis yang berdetak seperti jam dinding. Persepsi terhadap waktu dibentuk melalui berbagai proses psikologis yang melibatkan perhatian, persepsi, pengalaman, dan memori.

Kajian Richard A. Block dan Ronald P. Gruber dalam Acta Psychologica menjelaskan bahwa persepsi waktu merupakan proses yang kompleks. Penilaian terhadap durasi dapat dipengaruhi oleh perhatian dan perubahan konteks, sementara cara manusia menilai waktu ketika sedang mengalaminya dapat berbeda dari cara manusia mengingat kembali durasi tersebut setelah peristiwa berlalu.

Perbedaan ini penting untuk memahami mengapa satu jam bisa terasa sangat panjang ketika seseorang menunggu sesuatu, tetapi terasa singkat ketika sedang melakukan kegiatan yang menarik. Dalam kondisi pertama, perhatian lebih banyak diarahkan pada perjalanan waktu itu sendiri. Dalam kondisi kedua, perhatian terserap oleh aktivitas sehingga berlalunya waktu menjadi kurang menonjol.

Penelitian tentang kognisi temporal juga menunjukkan bahwa pengalaman subjektif terhadap durasi berkaitan dengan alokasi perhatian dan pengalaman sebelumnya terhadap suatu rangsangan. Artinya, otak tidak sekadar menghitung detik, tetapi terus membangun penilaian mengenai apa yang sedang terjadi dan bagaimana pengalaman itu disimpan.

Karena itu, ketika seseorang berkata “rasanya waktu semakin cepat,” pernyataan tersebut bukan berarti waktu fisik berubah. Yang berubah adalah pengalaman psikologis terhadap waktu.

Mengapa masa kecil sering terasa lebih panjang?

Salah satu penjelasan yang banyak dibahas dalam penelitian adalah peran pengalaman baru dan pembentukan memori.

Masa kanak-kanak hingga awal dewasa dipenuhi pengalaman yang relatif baru: masuk sekolah, bertemu teman baru, belajar keterampilan, berpindah lingkungan, mengenal pekerjaan, membangun hubungan, hingga menghadapi berbagai pengalaman pertama. Setiap pengalaman memberikan konteks baru yang dapat menjadi bagian dari ingatan.

Ketika seseorang mengingat kembali sebuah periode kehidupan, banyaknya perubahan dan pengalaman yang tersimpan dapat memengaruhi kesan mengenai panjang pendeknya periode tersebut. Inilah sebabnya sebuah perjalanan singkat yang dipenuhi pengalaman baru dapat terasa panjang ketika dikenang, sementara rutinitas berbulan-bulan kadang terasa seperti berlalu begitu saja. Hubungan antara perhatian, perubahan konteks, dan memori dalam persepsi waktu telah lama menjadi bagian penting dalam penelitian psikologi waktu.

Akan tetapi, teori “semakin banyak kenangan berarti waktu terasa lebih panjang” tidak boleh dianggap sebagai jawaban tunggal. Penelitian terbaru justru memberikan gambaran yang lebih kompleks.

Studi yang diterbitkan dalam Memory & Cognition pada 2026 melibatkan 120 orang berusia 20–91 tahun untuk menguji hubungan antara usia, persepsi perjalanan waktu, memori autobiografis, dan fungsi kognitif. Peneliti menemukan bahwa peserta yang lebih tua cenderung menilai perjalanan waktu selama satu dekade terakhir sebagai lebih cepat, tetapi efek tersebut tidak berhubungan secara signifikan dengan jumlah atau nilai subjektif kenangan autobiografis yang mereka laporkan.

Temuan ini penting karena memperbaiki penjelasan yang selama ini populer.

Memori baru mungkin lebih penting daripada jumlah kenangan

Penelitian 2026 tersebut menemukan hubungan antara persepsi waktu yang terasa lebih cepat dengan kemampuan membentuk informasi baru dalam memori, khususnya pada pengukuran memori setelah jeda. Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak kenangan masa lalu yang masih dapat diceritakan seseorang.

Para peneliti menemukan bahwa kemampuan mengingat kembali informasi setelah jeda berkorelasi dengan persepsi mengenai cepatnya waktu berlalu selama satu dekade terakhir. Mereka menyimpulkan bahwa berkurangnya kemampuan mengode informasi baru dapat menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan munculnya kesan bahwa periode waktu yang panjang terasa semakin cepat pada usia lebih tua.

Gambaran sederhananya seperti ini: bayangkan satu tahun kehidupan sebagai sebuah buku. Jika halaman-halamannya dipenuhi kejadian baru, perubahan tempat, pembelajaran, pertemuan, dan pengalaman yang berbeda, periode tersebut memiliki banyak penanda ketika kita melihatnya kembali. Jika sebagian besar hari berlangsung dengan pola yang sama, periode tersebut dapat memiliki lebih sedikit penanda memori yang terasa berbeda.

Ketika beberapa tahun kemudian kita melihat kembali rentang tersebut, perbedaan kepadatan pengalaman yang berhasil dikodekan dapat memengaruhi kesan subjektif tentang seberapa cepat waktu berlalu. Ini adalah salah satu penjelasan yang sedang diuji dalam penelitian, bukan hukum pasti yang berlaku sama bagi setiap orang.

Apakah rutinitas membuat waktu terasa semakin singkat?

Rutinitas juga menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai waktu subjektif. Kehidupan orang dewasa sering memiliki pola yang lebih berulang dibandingkan masa kanak-kanak: perjalanan yang sama, pekerjaan yang sama, aktivitas rumah tangga, jadwal mingguan, serta lingkungan yang relatif familiar.

Dalam situasi seperti itu, perhatian tidak selalu diarahkan pada perjalanan waktu. Aktivitas yang sudah familiar dapat dilakukan dengan lebih sedikit perhatian sadar dibandingkan pengalaman baru. Penelitian tentang persepsi waktu memang menunjukkan bahwa perhatian dan perubahan konteks dapat memengaruhi bagaimana manusia memperkirakan durasi.

Meski demikian, penelitian tidak mendukung kesimpulan sederhana bahwa rutinitas otomatis membuat semua orang merasa hidupnya berlalu lebih cepat. Studi mengenai hubungan usia dan kecepatan subjektif waktu menemukan bahwa perbedaan antarusia relatif kecil pada sejumlah ukuran, sementara efek yang lebih konsisten terlihat ketika responden diminta menilai sepuluh tahun terakhir.

Penelitian 2026 juga mengingatkan bahwa usia bukan satu-satunya faktor. Para peneliti menemukan bahwa fungsi kognitif hanya menjelaskan sebagian hubungan tersebut, sehingga faktor lain seperti pengalaman baru, rutinitas, tekanan waktu, perspektif terhadap masa depan, serta kondisi emosional masih dapat berperan. Karena penelitian tersebut bersifat cross-sectional, hasilnya menunjukkan hubungan antarfaktor, bukan bukti bahwa satu faktor secara langsung menyebabkan persepsi waktu menjadi lebih cepat.

Jadi, bisakah manusia membuat waktu terasa lebih panjang?

Jawabannya perlu hati-hati. Manusia tidak dapat memperlambat waktu objektif. Satu hari tetap 24 jam, berapa pun usia seseorang.

Yang mungkin diubah adalah kualitas pengalaman yang kemudian menjadi bahan bagi ingatan. Pengalaman baru, perhatian yang lebih penuh, pembelajaran, dan perubahan konteks dapat membuat sebuah periode kehidupan memiliki lebih banyak penanda yang membedakannya ketika dikenang.

Penelitian mengenai emosi juga menunjukkan bahwa keadaan emosional dapat mengubah pengalaman subjektif terhadap waktu. Sebuah tinjauan dalam Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa emosi, tingkat keterbangkitan (arousal), dan motivasi dapat memengaruhi cara manusia mengalami perjalanan waktu. Meta-analisis yang mencakup 31 penelitian dengan 3.776 partisipan juga menemukan bahwa valensi emosi, tingkat arousal, jenis rangsangan, dan metode pengukuran dapat memoderasi efek emosi terhadap persepsi waktu.

Jadi, tidak ada satu tombol di dalam otak yang menentukan cepat atau lambatnya waktu terasa. Persepsi tersebut merupakan hasil dari interaksi berbagai proses mental.

Pada akhirnya, kalimat “waktu semakin cepat ketika kita tua” lebih tepat dipahami sebagai pengalaman psikologis daripada perubahan pada waktu itu sendiri. Penelitian terbaru semakin mengarah pada pemahaman bahwa bagaimana otak membentuk dan menyimpan pengalaman baru merupakan salah satu bagian penting dari teka-teki tersebut, sementara usia, rutinitas, perhatian, emosi, dan fungsi kognitif ikut membentuk gambaran yang lebih lengkap.

Mungkin karena itu, ketika seseorang merasa tahun-tahun berlalu semakin cepat, persoalannya bukan jam yang bergerak lebih kencang. Bisa jadi, cara otak merekam perjalanan hidup yang membuat masa lalu terlihat semakin rapat ketika kita menoleh ke belakang.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar