Frame Faily, Jakarta – (01/07/2026) Kesehatan mata kini menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Berdasarkan laporan komprehensif dari The Lancet Global Health Commission on Global Eye Health yang dipimpin oleh Matthew J. Burton dan rekan-rekan peneliti lainnya, gangguan penglihatan memiliki implikasi mendalam bagi ekonomi, pendidikan, hingga kesejahteraan mental seseorang.
Fakta Mengejutkan di Balik Gangguan Penglihatan
Penelitian ini mengungkapkan data yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2020, diperkirakan terdapat 596 juta orang di seluruh dunia yang mengalami gangguan penglihatan jarak jauh, di mana 43 juta di antaranya mengalami kebutaan total. Selain itu, 510 juta orang lainnya mengalami gangguan penglihatan jarak dekat karena kurangnya akses terhadap kacamata baca.
Yang lebih memprihatinkan, lebih dari 90% penderita gangguan penglihatan ini tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Padahal, secara medis, lebih dari 90% kasus tersebut sebenarnya dapat dicegah atau diobati dengan intervensi yang sangat hemat biaya, seperti operasi katarak atau penyediaan kacamata.
Burton dkk. menegaskan bahwa kesehatan mata bukan sekadar masalah medis, melainkan isu pembangunan manusia. Gangguan penglihatan yang tidak tertangani berdampak langsung pada produktivitas ekonomi global. Diperkirakan kerugian produktivitas ekonomi akibat gangguan penglihatan mencapai lebih dari US$410 miliar per tahun.
Selain aspek ekonomi, gangguan penglihatan juga berkontribusi pada penurunan mobilitas, risiko jatuh yang lebih tinggi, kecelakaan lalu lintas, hingga masalah kesehatan mental seperti depresi dan demensia. Di sisi lain, penglihatan yang baik memungkinkan individu untuk belajar lebih efektif, bekerja lebih produktif, dan berpartisipasi aktif dalam masyarakat.
Tren penuaan populasi global menjadi tantangan besar. Para peneliti memproyeksikan bahwa pada tahun 2050, jumlah orang dengan gangguan penglihatan jarak jauh akan meningkat drastis menjadi 895 juta orang, dengan 61 juta di antaranya mengalami kebutaan.
Peningkatan prevalensi diabetes di seluruh dunia juga memicu naiknya risiko retinopati diabetik, yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan mata di masa depan. Oleh karena itu, The Lancet Global Health Commission mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk mengintegrasikan layanan kesehatan mata ke dalam sistem cakupan kesehatan universal (Universal Health Coverage).
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan langkah kolektif. Peneliti menekankan pentingnya:
- Reorientasi Kebijakan: Menempatkan kesehatan mata sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dan kesehatan global.
- Peningkatan Akses: Memastikan layanan mata yang berkualitas dan terjangkau tersedia bagi semua lapisan masyarakat, terutama kelompok marginal.
- Penguatan Tenaga Kesehatan: Mengatasi kekurangan tenaga spesialis mata melalui pelatihan yang lebih baik dan pembagian tugas yang efisien.
- Pemanfaatan Teknologi: Mengoptimalkan penggunaan telemedicine dan kecerdasan buatan (AI) untuk menjangkau wilayah terpencil.
Kesehatan mata adalah fondasi bagi kualitas hidup yang lebih baik. Tanpa tindakan yang terukur dan segera, beban kebutaan yang sebenarnya dapat dihindari akan terus membayangi masyarakat global di dekade mendatang.
Komentar