Ada Orang yang Lebih Sering Digigit Nyamuk daripada Orang Lain? Ini Penjelasan Sainsnya

Merasa selalu menjadi sasaran nyamuk sementara orang di sekitar Anda tidak? Penelitian menunjukkan nyamuk memang lebih tertarik kepada orang tertentu, terutama karena perbedaan bau kulit, senyawa kimia tubuh, karbon dioksida, dan mikrobioma kulit.

Ada Orang yang Lebih Sering Digigit Nyamuk daripada Orang Lain? Ini Penjelasan Sainsnya
Ilustrasi: Perbedaan bau dan senyawa kimia kulit, karbon dioksida dari pernapasan, suhu tubuh, serta mikrobioma kulit dapat membuat sebagian orang lebih menarik bagi nyamuk dibandingkan orang lain.(Frame Daily.id)

Frame Daily, Jakarta - Pernah berada dalam satu ruangan bersama beberapa orang, tetapi Anda yang berkali-kali digigit nyamuk? Kondisi tersebut ternyata bukan sekadar perasaan.

Penelitian menunjukkan nyamuk memang dapat memiliki preferensi kuat terhadap manusia tertentu. Salah satu faktor yang paling banyak mendapat perhatian ilmuwan adalah bau yang secara alami dihasilkan kulit manusia.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Cell menemukan perbedaan ketertarikan nyamuk terhadap seseorang bahkan dapat bertahan dalam jangka panjang.

Para peneliti menguji ketertarikan nyamuk Aedes aegypti terhadap bau kulit sejumlah partisipan. Hasilnya, beberapa orang secara konsisten jauh lebih menarik bagi nyamuk dibandingkan yang lain.

Dalam eksperimen tersebut, individu yang paling menarik bahkan memiliki skor ketertarikan lebih dari 100 kali lebih tinggi dibandingkan dua individu yang paling tidak menarik bagi nyamuk. Perbedaan tersebut tetap terlihat selama berbulan-bulan.

Lantas, apa yang membuat seseorang seperti menjadi "magnet nyamuk"?

Bau Kulit Jadi Salah Satu Kuncinya

Penelitian menemukan orang yang sangat menarik bagi Aedes aegypti menghasilkan tingkat asam karboksilat (carboxylic acids) yang lebih tinggi pada emanasi kulit mereka.

Senyawa tersebut merupakan bagian dari campuran kompleks yang membentuk aroma alami kulit manusia. Para peneliti menemukan hubungan antara tingginya asam karboksilat dengan meningkatnya ketertarikan nyamuk.

Namun bukan berarti seseorang yang memiliki bau badan lebih kuat pasti lebih sering digigit. Yang penting bagi nyamuk adalah komposisi kimia bau tubuh, bukan sekadar apakah aroma seseorang tercium kuat oleh manusia.

Nyamuk sendiri memiliki sistem sensorik yang sangat sensitif.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, lembaga kesehatan masyarakat nasional Amerika Serikat, antena nyamuk dapat mendeteksi karbon dioksida (CO₂) yang keluar melalui pernapasan manusia. Organ sensorik lainnya juga membantu nyamuk mengenali bau.

Penelitian terhadap Aedes aegypti menunjukkan nyamuk betina menggunakan kombinasi berbagai petunjuk, termasuk CO₂ yang diembuskan, panas tubuh, dan bau kulit, untuk memburu manusia.

Karena itu, tubuh manusia pada dasarnya menghasilkan sejumlah "sinyal" yang dapat membantu nyamuk menemukan calon sumber darah.

Dan yang menggigit sebenarnya adalah nyamuk betina. CDC menjelaskan nyamuk betina membutuhkan darah untuk menghasilkan telur, sedangkan nyamuk jantan tidak mengisap darah manusia.

Bakteri di Kulit Juga Berperan

Ada faktor lain yang membuat persoalan ini semakin menarik yaitu mikrobioma kulit. Kulit manusia dihuni berbagai mikroorganisme. Bakteri tersebut dapat memproses lemak, asam amino dan senyawa lain pada kulit sehingga menghasilkan zat volatil yang berkontribusi terhadap aroma tubuh.

Penelitian menemukan komposisi mikrobioma kulit berbeda antara kelompok manusia yang sangat menarik dan kurang menarik bagi nyamuk Anopheles coluzzii. Studi lain yang diterbitkan pada 2024 juga menunjukkan mikrobioma kulit berperan dalam menghasilkan banyak aroma manusia yang dapat menarik nyamuk.

Bahkan riset terbaru pada 2026 memperkuat bahwa tidak semua spesies nyamuk memilih manusia dengan cara yang persis sama. Studi terhadap 119 partisipan menemukan Aedes aegypti, Aedes albopictus, dan Culex quinquefasciatus menunjukkan pola ketertarikan yang berbeda terhadap individu. Masing-masing spesies cenderung menyukai kelompok bau manusia yang berbeda.

Artinya, seseorang yang sangat menarik bagi satu jenis nyamuk belum tentu menjadi pilihan utama spesies lainnya.

Bagaimana dengan Golongan Darah?

Golongan darah sering disebut sebagai alasan seseorang lebih sering digigit nyamuk. Sejumlah penelitian memang pernah menemukan hubungan antara golongan darah dan ketertarikan nyamuk.

Namun bukti ilmiah saat ini menunjukkan persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar golongan darah. Kajian ilmiah terbaru menyebut sejumlah faktor pernah dikaitkan dengan ketertarikan nyamuk, termasuk genetika, golongan darah ABO, mikrobioma kulit, kehamilan, diet, konsumsi alkohol dan produk perawatan tubuh, tetapi mekanisme kimia yang menentukan perbedaan antarmanusia masih belum sepenuhnya dipahami.

Karena itu, klaim populer seperti "nyamuk selalu lebih suka golongan darah tertentu" sebaiknya tidak dianggap sebagai penjelasan tunggal. Temuan-temuan tersebut juga memiliki implikasi kesehatan yang lebih besar daripada sekadar bentol dan rasa gatal.

Aedes aegypti, misalnya, merupakan vektor penyakit seperti demam berdarah dengue, chikungunya, Zika, dan demam kuning. CDC menjelaskan nyamuk dapat memperoleh virus atau parasit ketika menggigit manusia atau hewan yang terinfeksi dan kemudian berperan dalam penularannya.

Jadi, ketika seseorang merasa lebih sering "dipilih" nyamuk dibandingkan orang di sekitarnya, sains menunjukkan pengalaman itu memang mungkin terjadi. Penyebabnya bukan karena darah seseorang lebih "manis", melainkan kemungkinan merupakan hasil kombinasi kompleks dari bau kulit, senyawa kimia tubuh, mikrobioma, CO₂ dan berbagai petunjuk biologis lain yang dapat dideteksi nyamuk.

Dan bagi sebagian orang, kombinasi tersebut tampaknya membuat mereka jauh lebih mudah ditemukan di tengah kerumunan.

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar