Kasus ISPA di Wilayah Karhutla Tembus 113 Ribu, Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Terus Menghirup Asap?

Kemenkes mencatat 113.336 kasus ISPA secara kumulatif di wilayah terdampak karhutla hingga 9 September 2026. Di balik kabut asap, partikel halus PM2,5 dapat masuk jauh ke paru-paru bahkan mencapai aliran darah. Apa yang terjadi pada tubuh jika paparan berlangsung terus-menerus?

Kasus ISPA di Wilayah Karhutla Tembus 113 Ribu, Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Terus Menghirup Asap?
Ilustrasi: Paparan asap karhutla mengandung partikel halus PM2,5 yang dapat masuk jauh ke paru-paru dan memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan. (Framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini tidak hanya terlihat dari hutan yang terbakar dan langit yang tertutup kabut asap. Beban kesehatan masyarakat di wilayah terdampak juga menjadi perhatian.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 113.336 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak karhutla hingga 9 September 2026.

Kasus tersebut dilaporkan dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi. Dari jumlah itu, sebanyak 26.545 kasus tercatat pada kelompok usia 0–5 tahun, berdasarkan keterangan Juru Bicara Kemenkes Widyawati dalam konferensi pers Kamis (10/9/2026).

Angkanya meningkat tajam dibandingkan laporan situasi Kemenkes per 27 Agustus, ketika tercatat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif dari wilayah terdampak. Kemenkes sendiri mengingatkan bahwa angka dari laporan pada periode berbeda perlu dibaca hati-hati karena cakupan dan periode pelaporannya dapat berbeda.

Karena itu, angka 113.336 tidak boleh langsung diartikan sebagai seluruh kasus yang secara klinis terbukti disebabkan asap karhutla. Data tersebut menunjukkan kasus ISPA yang tercatat di wilayah yang sedang terdampak karhutla.

Namun hubungan antara asap kebakaran dan gangguan pernapasan memang menjadi perhatian serius.

Kemenkes sebelumnya menyebut ancaman utama dari kabut asap adalah paparan partikel halus PM2,5, bersama karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta berbagai senyawa organik berbahaya.

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi ketika tubuh terus menghirup udara penuh asap?

Partikel Begitu Kecil Bisa Masuk Jauh ke Paru-Paru

Asap karhutla bukan sekadar “udara yang berbau terbakar”.

Asap merupakan campuran berbagai gas dan partikel hasil pembakaran. Salah satu komponen yang paling menjadi perhatian kesehatan adalah PM2,5, yaitu partikulat halus dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut terhirup hingga bagian terdalam paru-paru. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengingatkan PM2,5 dari karhutla dapat mengganggu sistem pernapasan dan meningkatkan risiko ISPA.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menjelaskan sebagian partikel halus dari asap kebakaran dapat masuk jauh ke paru-paru dan kemudian mencapai aliran darah.

Tubuh sebenarnya mempunyai mekanisme pertahanan.

Hidung dan saluran pernapasan dapat menyaring sebagian material asing. Namun partikel yang sangat kecil lebih sulit ditahan dibandingkan partikel berukuran besar.

Ketika paparan terjadi, saluran pernapasan dapat mengalami iritasi dan respons peradangan.

Gejala awalnya bisa terasa sederhana: mata dan tenggorokan perih, batuk, sakit kepala atau hidung terasa tidak nyaman.

Ketika paparannya lebih berat, WHO mencatat seseorang dapat mengalami sesak napas, pusing hingga nyeri dada. Asap juga dapat memicu serangan asma dan memperburuk penyakit paru yang sudah ada.

Bukan Hanya Paru-Paru

Inilah bagian yang sering terlewat ketika membicarakan kabut asap.

Dampaknya tidak berhenti pada batuk.

Karena partikel halus dapat menembus jauh ke sistem pernapasan dan sebagian mencapai peredaran darah, paparan polusi partikel juga dikaitkan dengan efek pada sistem kardiovaskular.

WHO mencatat paparan asap kebakaran dapat berhubungan dengan jantung berdebar hingga peningkatan kebutuhan perawatan rumah sakit pada kelompok usia lanjut.

Secara lebih luas, WHO menyebut PM2,5 dari asap kebakaran dapat menyebabkan atau memperburuk penyakit yang memengaruhi paru-paru, jantung, otak dan sistem saraf, serta sejumlah organ lainnya.

Artinya, ketika seseorang bernapas di tengah kabut asap, yang masuk ke tubuh bukan hanya “bau”.

Tubuh berhadapan dengan campuran polutan yang dapat memicu respons biologis dari saluran napas hingga sistem peredaran darah.

Mengapa Paparan Berulang Lebih Mengkhawatirkan?

Efek kesehatan asap bergantung pada banyak faktor: seberapa tinggi konsentrasi polutan, berapa lama seseorang terpapar, seberapa sering paparan terjadi, jenis material yang terbakar, hingga kondisi kesehatan orang tersebut.

Seseorang yang hanya sesaat melewati daerah berasap tentu menghadapi kondisi berbeda dibandingkan warga yang selama berhari-hari harus menghirup udara tercemar.

WHO menyebut dampak jangka pendek yang telah diamati mencakup iritasi saluran pernapasan, serangan asma, sesak napas hingga efek kardiovaskular. Untuk berbagai konsekuensi jangka panjang khusus paparan asap kebakaran, penelitian masih terus berkembang.

Karena itu, tidak tepat pula menyimpulkan bahwa setiap orang yang menghirup asap selama beberapa hari pasti akan mengalami kerusakan paru permanen.

Risikonya dipengaruhi dosis dan durasi paparan serta kerentanan masing-masing individu.

Siapa yang Paling Rentan?

Tidak semua tubuh mempunyai kemampuan yang sama menghadapi asap.

Kemenkes memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit bawaan, termasuk penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Anak-anak menjadi perhatian karena paru-paru dan sistem tubuh mereka masih berkembang. Data terbaru yang menyebut 26.545 kasus ISPA pada kelompok usia 0–5 tahun membuat perlindungan terhadap kelompok ini semakin penting.

Orang dengan asma atau penyakit paru kronis juga dapat mengalami perburukan gejala ketika kualitas udara memburuk.

Kelompok lain yang patut diperhatikan adalah orang yang sulit menghindari paparan, termasuk pekerja luar ruangan dan petugas yang bekerja dekat lokasi kebakaran. WHO memasukkan petugas tanggap darurat sebagai kelompok dengan risiko paparan lebih tinggi.

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Asap Pekat?

Kemenkes meminta masyarakat di zona terdampak karhutla membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker ketika berada di luar, memantau indeks kualitas udara, mencukupi kebutuhan air minum, serta segera mencari pelayanan kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.

Saat asap masuk ke lingkungan rumah, mengurangi masuknya udara luar yang tercemar juga penting. WHO menyarankan menutup jendela ketika asap kebakaran berada di luar dan, bila menggunakan pendingin udara, mengaktifkan mode sirkulasi ulang apabila memungkinkan. Sumber polusi udara di dalam rumah seperti asap rokok juga sebaiknya dihindari.

Gejala seperti sesak napas, mengi atau nyeri dada tidak sebaiknya dianggap sebagai batuk biasa, terutama pada kelompok rentan atau orang dengan penyakit jantung dan paru sebelumnya.

Asap karhutla memang dapat menghilang ketika angin berubah atau hujan turun. Selama udara masih dipenuhi partikel halus, setiap tarikan napas dapat menjadi jalur masuk polutan ke dalam tubuh.

Itulah mengapa persoalan karhutla bukan hanya tentang seberapa luas lahan yang terbakar, tetapi juga tentang berapa lama jutaan orang harus bernapas di udara yang tercemar.

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar