Frame Daily, Aceh Barat - Matahari pagi baru saja menyembul dari balik perbukitan ketika langkah-langkah kecil mulai bergerak menuju tepian Sungai Alue Lhok. Di tangan mereka tergenggam tas sekolah yang dibungkus plastik seadanya. Seragam merah putih yang mestinya bersih dan rapi, sebentar lagi akan basah diterpa arus sungai.
Bagi anak-anak Desa Cangai, Kecamatan Pante Ceureumen, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas harian. Setiap hari, mereka harus menghadapi sungai yang bisa berubah menjadi ancaman maut kapan saja.
Jembatan gantung yang selama bertahun-tahun menjadi penghubung utama antar-desa kini hanya tinggal kenangan. Bencana hidrometeorologi yang menerjang wilayah itu beberapa waktu lalu merobohkan satu-satunya akses penyeberangan. Besi-besi penyangga yang dulu menjadi harapan masyarakat kini tergeletak tak berdaya di dasar sungai.

Namun putusnya jembatan tidak mampu memutus semangat anak-anak untuk belajar.
Dengan tubuh mungil dan langkah penuh keberanian, mereka tetap berangkat ke SDN Alue Lhok setiap pagi. Buku pelajaran dibungkus rapat agar tidak rusak terkena air. Sepatu dijinjing di atas kepala. Sementara kaki-kaki kecil mereka menapaki dasar sungai yang licin dan tidak menentu.
Di balik keberanian itu, tersimpan kecemasan yang tak pernah benar-benar hilang.

Setiap pagi, para ayah turun langsung ke sungai. Mereka menggendong anak-anak satu per satu melawan derasnya arus yang sewaktu-waktu bisa menyeret siapa saja. Dengan tenaga dan doa, mereka memastikan buah hati mereka bisa sampai ke seberang.
Di tepian sungai lainnya, para ibu hanya mampu memandang dengan wajah penuh kecemasan.
Tatapan mereka mengikuti setiap langkah anak yang sedang menyeberang. Sesekali tangan terangkat, seolah ingin meraih dan melindungi dari kejauhan. Bibir mereka tak henti berdoa, berharap perjalanan yang berbahaya itu berakhir dengan selamat.

Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan mereka.
Ketika hujan turun di kawasan hulu, wajah sungai dapat berubah dalam hitungan menit. Air yang semula tenang mendadak menjadi deras dan keruh. Pada saat seperti itu, anak-anak terpaksa mengurungkan niat untuk belajar. Mereka tidak bisa menyeberang. Sekolah menjadi tempat yang terlalu jauh untuk dijangkau.
Anak-anak Desa Cangai, Aceh Barat, harus menyeberangi Sungai Alue Lhok yang deras setiap hari untuk bersekolah setelah jembatan gantung putus akibat bencana. Perjuangan mereka menjadi potret nyata akses pendidikan yang terancam.
Hari-hari belajar pun hilang begitu saja, bukan karena malas atau tidak ingin sekolah, melainkan karena alam menghadang jalan mereka.
Bagi masyarakat Desa Cangai, jembatan yang putus bukan sekadar kerusakan infrastruktur. Jembatan itu adalah urat nadi kehidupan. Ia menghubungkan anak-anak dengan pendidikan, warga dengan pelayanan publik, dan harapan dengan masa depan.
Kini, setiap arus sungai yang dilalui anak-anak itu seakan menjadi simbol perjuangan panjang masyarakat pedalaman yang masih menanti perhatian.

Mereka tidak meminta kemewahan.
Mereka hanya ingin sebuah jembatan yang kokoh. Sebuah akses yang aman agar anak-anak bisa pergi ke sekolah tanpa harus mempertaruhkan nyawa setiap pagi.
Di tengah derasnya Sungai Alue Lhok, semangat belajar anak-anak Desa Cangai masih berdiri tegak. Namun pertanyaannya, sampai kapan mereka harus berjalan di antara harapan dan bahaya hanya untuk mendapatkan hak yang seharusnya dijamin oleh negara?

Sebab ketika sebuah jembatan runtuh, yang terputus bukan hanya jalan penghubung antar-desa. Yang ikut terancam adalah mimpi, cita-cita, dan masa depan generasi penerus bangsa.
Komentar