IHSG Hari Ini Berpotensi Tertekan, Investor Cermati Minyak

IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (11/9/2026) setelah terkoreksi 1,33 persen ke 6.589,34 pada perdagangan sebelumnya.

IHSG Hari Ini Berpotensi Tertekan, Investor Cermati Minyak
Photo by Deng Xiang / Unsplash

Frame Daily, Jakarta - IHSG hari ini, Jumat (11/9/2026), berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan melemah setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam pada perdagangan Kamis (10/9). Tekanan pasar datang ketika hampir seluruh sektor saham melemah, sementara investor asing mencatatkan aksi jual bersih

Berdasarkan data historis perdagangan, IHSG ditutup di level 6.589,34, turun 88,86 poin atau 1,33 persen pada Kamis. Indeks bergerak pada rentang 6.585,56 hingga 6.712,50 dengan volume transaksi sekitar 40,30 miliar saham.

IHSG Tertekan Setelah Seluruh Sektor Melemah

Tekanan terhadap IHSG pada perdagangan Kamis terjadi setelah seluruh sektor saham tercatat melemah. Data perdagangan yang mengutip Bursa Efek Indonesia menunjukkan sebanyak 516 saham turun, 150 saham menguat, dan 127 saham stagnan.

Nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp21,58 triliun, dengan volume perdagangan 51,06 miliar saham. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual berlangsung cukup luas, bukan hanya pada beberapa saham berkapitalisasi besar.

Investor asing juga mencatatkan net sell sekitar Rp1,95 triliun di seluruh pasar pada Kamis. Di pasar reguler, sejumlah saham perbankan besar menjadi sasaran jual asing, termasuk BBCA dan BBRI, berdasarkan data perdagangan yang dikutip dari BEI melalui RTI.

Meski terjadi aksi jual secara keseluruhan, aliran dana asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar saham Indonesia. Beberapa saham komoditas justru mencatat pembelian bersih asing, antara lain ANTM, AADI, CUAN dan PTBA.

Harga Minyak Jadi Sentimen Penting Hari Ini

Pergerakan IHSG pada Jumat juga berpotensi dipengaruhi kenaikan tajam harga minyak dunia. Mengutip Reuters, Kontan melaporkan harga minyak Brent pada Kamis naik 6,34 persen menjadi US$107,63 per barel, sedangkan WTI melonjak 6,69 persen menjadi US$102,48 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global setelah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker. Kondisi ini membuat pasar kembali memperhitungkan risiko inflasi serta dampaknya terhadap kebijakan suku bunga.

Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan kepada Kontan bahwa meningkatnya risiko gangguan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb membuat risiko disrupsi pasokan minyak menjadi lebih luas.

“Terancamnya Hormuz bersamaan dengan Bab el-Mandeb membuat risiko disrupsi fisik tidak lagi bersifat lokal, melainkan sistemik,” ujar Wahyu, dikutip dari Kontan.

Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian bagi Indonesia karena berpotensi meningkatkan biaya impor energi serta tekanan terhadap subsidi dan kompensasi energi apabila berlangsung dalam waktu lama.

Rupiah dan Sentimen Global Perlu Dicermati

Selain harga minyak, pergerakan rupiah menjadi faktor penting bagi investor domestik. Bank Indonesia mencatat JISDOR pada 10 September 2026 berada di Rp17.536 per dolar AS, menguat dari Rp17.552 pada hari sebelumnya.

Pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian karena pelemahan mata uang domestik dapat meningkatkan tekanan terhadap saham-saham yang sensitif terhadap arus modal asing dan biaya impor. Sebaliknya, rupiah yang relatif stabil dapat membantu mengurangi tekanan tambahan terhadap pasar saham.

Di pasar global, kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi sentimen yang perlu diperhatikan investor. Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar kembali berhati-hati terhadap prospek inflasi dan arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.

Level Support dan Resistance IHSG

Secara teknikal, analis pasar memperkirakan IHSG masih menghadapi risiko koreksi pada perdagangan Jumat. Pasardana memperkirakan support IHSG berada di area 6.530–6.570, sedangkan resistance berada di sekitar 6.600–6.620.

Level tersebut menjadi penting setelah IHSG ditutup di 6.589,34. Artinya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan indeks menembus area support, ruang koreksi dapat terbuka lebih lebar.

Sebaliknya, apabila IHSG mampu kembali bergerak di atas area 6.600–6.620, tekanan jual jangka pendek berpotensi mereda. Investor tetap perlu memperhatikan volume transaksi dan pergerakan saham berkapitalisasi besar sebagai konfirmasi arah indeks.

Dengan kondisi pasar global yang masih sensitif terhadap harga minyak, rupiah, yield obligasi Amerika Serikat dan arus dana asing, IHSG hari ini diperkirakan masih bergerak volatil. Investor disarankan mencermati pergerakan pada awal perdagangan sebelum menentukan strategi, terutama setelah koreksi tajam pada sesi sebelumnya.

Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan strategi masing-masing investor.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar