Harga Minyak Tembus US$100, IHSG Tertekan, Inflasi Global Mengintai

Harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel. Pada saat yang sama, IHSG melemah 0,12 persen ke level 6.678,20.

Harga Minyak Tembus US$100, IHSG Tertekan, Inflasi Global Mengintai
Harga minyak Brent menembus US$100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. (Ilustrasi/AI/framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta - Harga minyak mentah dunia kembali menembus level psikologis US$100 per barel pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Pada hari yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 0,12 persen ke level 6.678,20.

Harga Brent berjangka naik lebih dari 3 persen menjadi US$100,95 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi US$95,78 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, dilansir Reuters.

Mengapa Harga Minyak Kembali Menembus US$100?

Kenaikan harga minyak dipengaruhi meningkatnya risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap kapal tanker dan meningkatnya ketegangan di sekitar jalur perdagangan energi memperbesar kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan minyak.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik perhatian karena merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak global. Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut dapat meningkatkan biaya pengiriman sekaligus memperketat pasokan.

Reuters melaporkan Brent telah menembus US$100 untuk pertama kalinya sejak akhir Juli. Pasar juga menghadapi risiko tambahan dari serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi dan ancaman terhadap jalur pelayaran alternatif di Laut Merah.

Kondisi tersebut membuat harga minyak kembali memperoleh geopolitical risk premium, yaitu tambahan harga yang muncul karena meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat konflik.

IHSG Ditutup Melemah 0,12 Persen

Tekanan harga minyak terjadi bersamaan dengan pelemahan IHSG pada perdagangan Rabu. IHSG turun 8,24 poin atau 0,12 persen menjadi 6.678,20, setelah bergerak dalam rentang 6.642,15 hingga 6.707,30 sepanjang perdagangan, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia.

Sebanyak 308 saham menguat, sedangkan 317 saham melemah dan 169 saham stagnan. Nilai transaksi perdagangan mencapai sekitar Rp16 triliun dengan frekuensi transaksi sekitar 2,17 juta kali.

Sektor transportasi menjadi salah satu sektor yang menguat dengan kenaikan 2,41 persen. Di sisi lain, sektor kesehatan mengalami penurunan paling dalam sebesar 1,33 persen.

Pelemahan IHSG juga berlangsung ketika mayoritas bursa Asia bergerak negatif. Pasar mencermati kenaikan harga minyak serta dampaknya terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga global.

Apa Dampaknya bagi Inflasi?

Harga energi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi. Jika berlangsung lama, tekanan tersebut dapat merambat ke harga barang dan jasa.

Bagi negara pengimpor minyak, kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya impor. Dampaknya juga dapat memengaruhi neraca perdagangan dan tekanan terhadap mata uang apabila kebutuhan impor energi meningkat.

Indonesia memiliki kepentingan langsung terhadap perkembangan harga energi global. Kenaikan harga minyak juga dapat memberikan dampak berbeda kepada masing-masing sektor usaha.

Perusahaan energi dapat memperoleh sentimen positif ketika harga minyak meningkat. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki konsumsi bahan bakar tinggi berpotensi menghadapi tekanan biaya lebih besar.

Investor Perlu Mencermati Risiko Berikutnya

Pergerakan minyak di atas US$100 menjadi salah satu indikator penting bagi pasar keuangan Indonesia. Investor akan mencermati apakah harga tersebut bertahan atau kembali turun setelah tekanan geopolitik mereda.

Kenaikan minyak yang bersifat sementara memiliki dampak berbeda dibandingkan lonjakan harga yang berlangsung dalam periode panjang. Jika gangguan pasokan berlanjut, risiko inflasi global dapat meningkat dan ruang pelonggaran kebijakan moneter dapat semakin terbatas.

Di pasar domestik, investor juga perlu memperhatikan pergerakan rupiah, imbal hasil obligasi, arus modal asing, serta kinerja sektor energi.

Dengan Brent kembali menembus US$100 per barel, perdagangan pasar Indonesia menghadapi kombinasi sentimen global yang lebih kompleks. Perkembangan konflik Timur Tengah akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah harga energi dan sentimen pasar dalam beberapa hari ke depan.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar