Enam Bandara Ditutup, Abu Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Nasional

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau meluas dan mengganggu penerbangan. Enam bandara terdampak, sementara Soetta diperpanjang hingga 17.30 WIB.

Enam Bandara Ditutup, Abu Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Nasional
Photo by Fasyah Halim / Unsplash

Frame Daily, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengganggu jaringan penerbangan nasional. Sebaran abu vulkanik yang meluas membuat enam bandara ditutup sementara untuk penerbangan, setelah otoritas mendeteksi potensi risiko terhadap keselamatan operasional pesawat.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan enam bandara terdampak setelah Kementerian Perhubungan menerima informasi mengenai pergerakan abu vulkanik dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Bandara Husein Sastranegara di Bandung menjadi bandara keenam yang ditutup setelah pengujian pada Minggu siang menunjukkan indikasi terdampak abu vulkanik.

Enam Bandara Ditutup Sementara

Lima bandara yang lebih dahulu ditutup adalah Bandara Radin Inten II di Lampung, Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Pondok Cabe, serta Budiarto di Curug, Tangerang. Setelah dilakukan pengujian lanjutan pada pukul 12.00 WIB, Husein Sastranegara Bandung dinyatakan turut terdampak sehingga operasional penerbangan dihentikan sementara.

“Pada kondisi sekarang ini, kami ingin melakukan update kembali berdasarkan informasi yang kami peroleh dengan melakukan tes pukul 12.00 WIB untuk Bandara Husein Sastranegara di Bandung terindikasikan bahwa sudah terdampak,” kata Dudy dalam jumpa pers yang dipantau secara daring, Minggu.

Enam bandara tersebut menjadi bagian dari langkah mitigasi untuk mencegah penerbangan beroperasi pada ruang udara yang berpotensi mengandung abu vulkanik. Kementerian Perhubungan menyatakan keputusan operasional terus dievaluasi berdasarkan kondisi terkini dan informasi keselamatan penerbangan.

Soetta Jadi Titik Dampak Terbesar

Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjadi salah satu titik utama terdampak erupsi. Penutupan operasional yang sebelumnya diperpanjang hingga pukul 13.30 WIB kembali diperpanjang hingga 17.30 WIB, seiring evaluasi terhadap kondisi sebaran abu vulkanik di ruang udara.

Perubahan waktu penutupan menunjukkan bahwa pembukaan kembali bandara tidak semata mengikuti jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. Status operasional dapat berubah berdasarkan hasil pemantauan kondisi ruang udara, sehingga penumpang perlu mengacu pada informasi terbaru dari maskapai dan otoritas penerbangan.

Kementerian Perhubungan juga meminta maskapai tidak memaksakan operasional penerbangan apabila kondisi belum memungkinkan. Menhub menegaskan keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional.

Erupsi Anak Krakatau “Lumpuhkan” Penerbangan Nasional Frame Daily
Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu pembatalan ratusan penerbangan di sejumlah bandara. Keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama.Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

Abu Vulkanik Menyebar hingga 50.000 Kaki

BMKG mengintensifkan pemantauan erupsi Gunung Anak Krakatau selama 24 jam karena dampaknya tidak hanya terhadap penerbangan, tetapi juga atmosfer dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta telah menerbitkan 50 SIGMET secara berkala untuk mendukung keselamatan navigasi udara. SIGMET merupakan informasi penting bagi penerbangan mengenai kondisi meteorologi yang dapat membahayakan keselamatan pesawat.

“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri.

Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan sekitarnya. Sementara sebaran hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda dan Samudra Hindia.

Penutupan Bandara Berdasarkan Kondisi Aktual

Kementerian Perhubungan terus berkoordinasi dengan BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), AirNav Indonesia, pengelola bandara serta maskapai penerbangan. Koordinasi tersebut diperlukan karena arah dan ketinggian sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.

Dudy mengatakan seluruh informasi mengenai perkembangan abu vulkanik akan terus diperbarui agar setiap pihak dapat mengambil langkah sesuai situasi di lapangan. Ia juga meminta maskapai mengutamakan keselamatan dan tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi belum memungkinkan.

BMKG menjelaskan bahwa keputusan penutupan bandara merupakan hasil koordinasi berbagai pemangku kepentingan penerbangan. NOTAM yang diterbitkan AirNav menjadi pemberitahuan resmi mengenai perubahan kondisi operasional atau potensi bahaya penerbangan, sementara SIGMET dan Volcanic Ash Advisory memberikan informasi meteorologi serta sebaran abu yang menjadi dasar evaluasi keselamatan.

Penumpang Diminta Pantau Maskapai

Dengan masih berlangsungnya pemantauan abu vulkanik, penumpang yang memiliki jadwal penerbangan dari atau menuju bandara terdampak diminta tidak hanya mengandalkan jadwal keberangkatan awal. Status penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan NOTAM, kondisi ruang udara dan keputusan keselamatan dari otoritas penerbangan.

Kementerian Perhubungan memastikan pemantauan dilakukan bersama seluruh pemangku kepentingan sampai kondisi dinyatakan aman untuk mendukung pemulihan operasional. Maskapai juga diminta memberikan informasi dan penanganan kepada penumpang yang penerbangannya terdampak.

Di sisi lain, BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan menyaring informasi yang beredar. Pembaruan mengenai kondisi erupsi dan dampaknya sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi BMKG, Badan Geologi/PVMBG serta instansi pemerintah terkait.

Erupsi Anak Krakatau kini memberikan dampak yang meluas terhadap ruang udara di wilayah barat Indonesia. Dengan abu terpantau hingga 50.000 kaki dan enam bandara mengalami penutupan sementara, keselamatan penerbangan menjadi faktor utama yang menentukan kapan operasional dapat kembali normal.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar