Frame Daily, Amerika Serikat – Fenomena tak biasa tengah terjadi di Amerika Serikat. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak warga negara tersebut memilih pindah ke luar negeri. Tren ini kembali menguat pada 2026, dipicu oleh tekanan biaya hidup yang terus meningkat, terutama di sektor perumahan dan kesehatan.
Sejumlah laporan internasional menyebut kondisi ini sebagai salah satu pergeseran mobilitas terbesar warga kelas menengah Amerika dalam satu dekade terakhir.
Migrasi keluar AS catat kondisi langka
Mengutip laporan ABC News (Australia) yang merujuk data Brookings Institution dan Wall Street Journal, Amerika Serikat pada 2025 mengalami kondisi migrasi bersih negatif.
Artinya, jumlah warga yang meninggalkan negara lebih banyak dibanding yang masuk.
“Untuk pertama kalinya sejak Depresi Besar, Amerika Serikat mengalami migrasi bersih negatif pada 2025.”
— ABC News, mengutip Brookings Institution & Wall Street Journal
Data Brookings memperkirakan sekitar 210.000 hingga 405.000 warga AS meninggalkan negara tersebut dalam satu tahun.
Fenomena ini menjadi sorotan karena AS selama ini dikenal sebagai negara tujuan utama migrasi global.
Biaya hidup jadi pemicu utama “gelombang keluar”
Laporan Reuters dan The Independent menyoroti bahwa alasan utama warga AS pindah ke luar negeri adalah tekanan ekonomi.
Faktor yang paling dominan:
- Harga sewa rumah yang terus naik
- Biaya kesehatan yang mahal
- Inflasi kebutuhan harian
- Tekanan hidup di kota besar
Survei yang dikutip media internasional menunjukkan sekitar 57% warga menyebut biaya hidup sebagai alasan utama ingin pindah ke luar negeri.

Analisis IMF & World Bank: kenapa AS terasa makin mahal?
World Bank: perbedaan biaya hidup karena struktur ekonomi
Menurut World Bank – International Comparison Program (ICP), perbedaan biaya hidup antar negara tidak hanya dipengaruhi nilai tukar, tetapi struktur ekonomi dan harga domestik.
Artinya, negara dengan sistem pasar terbuka seperti AS bisa memiliki harga jasa dan properti yang jauh lebih tinggi.
IMF: krisis perumahan dorong lonjakan biaya hidup
Dalam laporan International Monetary Fund (IMF), sektor perumahan menjadi salah satu pendorong terbesar kenaikan biaya hidup di negara maju.
Faktor utamanya:
- keterbatasan pasokan rumah
- kenaikan harga properti lebih cepat dari pendapatan
- suku bunga tinggi yang menekan cicilan
Kesehatan jadi pembeda terbesar AS vs Eropa
Salah satu faktor paling mencolok adalah sistem kesehatan.
Di Amerika Serikat:
- biaya medis sangat tinggi
- asuransi mahal
- layanan berbasis pasar
Di Eropa:
- sistem kesehatan universal
- subsidi negara besar
- biaya langsung jauh lebih rendah
Perbedaan ini membuat pengeluaran bulanan warga AS jauh lebih besar dibanding banyak negara Eropa.
Negara tujuan favorit warga AS
Dalam laporan internasional, negara yang paling banyak dipilih warga AS untuk pindah antara lain:
- Portugal
- Spanyol
- Meksiko
- Kanada
- Selandia Baru
Portugal menjadi salah satu tujuan utama karena biaya hidup lebih rendah dan kemudahan visa ekspatriat.
Bukan eksodus massal, tapi tren yang makin jelas
Meski jumlahnya meningkat, para analis menilai fenomena ini belum bisa disebut eksodus massal.
Amerika Serikat masih:
- menjadi negara tujuan imigrasi besar
- memiliki ekonomi terbesar dunia
- tetap menarik pekerja global
Namun pola yang muncul menunjukkan perubahan perilaku:
- pekerja remote lintas negara
- pensiunan pindah ke negara lebih murah
- kelas menengah mencari stabilitas biaya hidup
Tren warga Amerika Serikat yang meninggalkan negaranya terus menguat hingga 2026. Berdasarkan data ABC News, Reuters, The Independent, IMF, dan World Bank, faktor utama tetap pada biaya hidup tinggi, krisis perumahan, dan mahalnya layanan kesehatan.
Fenomena ini menggambarkan perubahan besar dalam mobilitas global: bukan lagi soal pekerjaan semata, tetapi soal kemampuan bertahan terhadap biaya hidup di negara maju.
Komentar