Frame Daily, BONE — Tangisan histeris memecah keheningan pagi di Kelurahan Masumpu, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulewesi Selatan Rabu (10/6/2026). Empat belas kepala keluarga hanya bisa terpaku menatap dinding-dinding rumah mereka, tempat berpuluh tahun memori dirajut, kini bersiap diratakan dengan tanah Bukan sekadar sengketa lahan, hari ini adalah babak paling memilukan bagi warga setempat. Rumah yang mereka bangun dengan keringat dan air mata berganti status menjadi sekadar "objek sengketa" di atas selembar kertas pengadilan Batas yang Mengoyak Hati Suasana yang awalnya tenang berubah mencekam saat tim eksekusi dari Pengadilan Negeri mulai melangkah maju. Kedatangan mereka bukan untuk bertamu, melainkan untuk mencocokkan batas-batas tanah yang akan disita. Bagi warga, setiap jengkal tanah yang diukur adalah ruang hidup yang sedang direnggut paksa. Kericuhan pun tidak terhindarkan. Emosi warga yang sudah membubung sejak pagi meledak ketika petugas mulai memasang patok. Teriakan protes, penolakan, hingga aksi saling dorong mewarnai proses pencocokan batas tersebut Warga mencoba bertahan, memagari rumah mereka dengan tubuh sendiri. Namun, perlawanan itu membentur barikade kokoh aparat kepolisian yang bersiaga penuh mengamankan jalannya eksekusi. Di Balik Tembok yang Akan Runtuh Di sudut lain, beberapa ibu rumah tangga tampak memeluk erat anak-anak mereka yang ketakutan mendengar riuhnya bentrokan di luar. Sementara para pria paruh baya hanya bisa tertunduk lesu di teras, memandangi atap rumah yang mungkin malam ini tak lagi bisa melindungi mereka dari hujan dan angin malam "Kami tidak tahu harus tidur di mana malam ini," bisik salah seorang warga dengan mata berkaca-kaca, pasrah melihat takdir pahit yang menjemput mereka di tengah hari bolong Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi masih tampak tegang. Aparat kepolisian terus berjaga ketat untuk memastikan proses hukum tetap berjalan, terlepas dari luka mendalam yang tertinggal di hati masyarakat Masumpu
Komentar