Frame Daily, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,45 persen di tengah ketidakpastian global. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang disoroti Presiden dalam pidatonya pada Jumat (14/8/2026).
Pertumbuhan ekonomi menunjukkan aktivitas produksi barang dan jasa dalam perekonomian meningkat. Namun bagi masyarakat, angka pertumbuhan baru terasa ketika peningkatan aktivitas ekonomi ikut menciptakan pekerjaan, menaikkan pendapatan dan menjaga daya beli.
Karena itu, pertanyaan setelah ekonomi tumbuh bukan hanya seberapa besar angkanya, tetapi juga siapa yang menikmati hasil pertumbuhan tersebut?
Pertumbuhan Ekonomi Bukan Pendapatan Setiap Orang
Pertumbuhan ekonomi kerap dibaca seolah-olah pendapatan masyarakat meningkat dengan persentase yang sama. Padahal keduanya merupakan ukuran yang berbeda.
Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) menunjukkan perubahan nilai barang dan jasa yang dihasilkan perekonomian. Angka tersebut tidak berarti pendapatan setiap warga otomatis naik 5,45 persen.
Manfaat pertumbuhan juga dapat berbeda antarsektor dan kelompok masyarakat.
Ketika sektor tertentu berkembang pesat, perusahaan dan pekerja yang terlibat langsung di dalamnya berpeluang memperoleh manfaat lebih besar. Dampaknya terhadap kelompok lain bergantung pada seberapa jauh pertumbuhan tersebut menciptakan lapangan kerja, meningkatkan upah dan menggerakkan kegiatan ekonomi lainnya.
Inilah sebabnya kualitas pertumbuhan menjadi sama pentingnya dengan angka pertumbuhan itu sendiri.
Bagi rumah tangga, ukuran yang lebih mudah dirasakan justru sederhana: apakah pekerjaan semakin tersedia, pendapatan meningkat dan kebutuhan sehari-hari tetap terjangkau?
Jika pendapatan naik tetapi biaya hidup meningkat lebih cepat, pertumbuhan ekonomi belum tentu terasa sebagai peningkatan kesejahteraan.
Tantangannya Membawa Pertumbuhan ke Rumah Tangga
Pidato Prabowo menjadi penting karena pemerintah tidak hanya berbicara mengenai capaian ekonomi saat ini. Pemerintah juga memasang target pertumbuhan yang lebih tinggi untuk tahun berikutnya.
Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen.
Target tersebut berarti aktivitas ekonomi harus bergerak lebih cepat. Investasi, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, ekspor hingga aktivitas industri akan menjadi bagian penting dalam mengejar pertumbuhan.
Namun, bagi masyarakat, kualitas pencapaian target tersebut akan sangat ditentukan oleh bagaimana pertumbuhan diterjemahkan menjadi kesempatan ekonomi.
Penciptaan pekerjaan menjadi salah satu jalurnya.
Pertumbuhan yang mendorong ekspansi industri dan usaha dapat meningkatkan kebutuhan tenaga kerja. Sebaliknya, pertumbuhan yang terkonsentrasi pada sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbatas belum tentu menghasilkan dampak yang sama luas.
Daya beli juga menjadi faktor penting. Konsumsi rumah tangga merupakan komponen besar dalam perekonomian Indonesia sehingga kemampuan masyarakat berbelanja ikut menentukan keberlanjutan pertumbuhan.
Karena itu, menjaga harga kebutuhan, pendapatan dan kesempatan kerja menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mengejar pertumbuhan lebih tinggi.
Angka 6 Persen Jadi Ujian Berikutnya
Target pertumbuhan 6 persen pada 2027 akan menjadi ujian berikutnya bagi pemerintah.
Persoalannya bukan hanya bagaimana meningkatkan angka pertumbuhan dari level yang disampaikan Presiden menjadi 6 persen, tetapi juga dari mana pertumbuhan tambahan itu berasal dan seberapa luas masyarakat memperoleh manfaatnya.
Pertanyaan tersebut akan kita bahas lebih jauh dalam artikel [Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh 6 Persen pada 2027, Dari Mana Mesin Pertumbuhannya?].
Ada pula faktor eksternal yang dapat memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga. Pemerintah, misalnya, menggunakan asumsi nilai tukar Rp17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027. Pergerakan rupiah dapat memengaruhi biaya barang impor, bahan baku hingga tekanan harga di dalam negeri.
Dampaknya terhadap masyarakat akan dibahas dalam artikel [Rupiah Rp17.500 per Dolar dalam RAPBN 2027, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?].
Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi 5,45 persen memberi gambaran bahwa perekonomian masih berkembang. Namun, keberhasilan ekonomi tidak selesai ketika angka pertumbuhan diumumkan.
Bagi masyarakat, ukuran yang lebih dekat adalah apakah pertumbuhan tersebut membuka pekerjaan, memperbaiki pendapatan dan meningkatkan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup.
Itulah yang menentukan apakah pertumbuhan ekonomi hanya terlihat dalam statistik atau benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Komentar