Frame Daily, Jakarta - Kalau berdiri di daratan dan melihat angin bergerak ke satu arah, mudah muncul anggapan bahwa abu vulkanik dari Anak Krakatau akan mengikuti arah yang sama. Kenyataannya tidak selalu begitu.
Abu vulkanik bisa bergerak ke daratan sekaligus ke laut. Penyebabnya adalah arah dan kecepatan angin tidak selalu sama pada setiap ketinggian atmosfer.

Baca Selengkapnya
Angin di Atas Tidak Selalu Sama dengan di Bawah
Fenomena itu terlihat dalam pemantauan BMKG terhadap erupsi Anak Krakatau. Pada 6 September, BMKG mencatat sebaran abu hingga ketinggian 20.000 kaki bergerak ke arah timur, sementara abu hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat.
Artinya, dua bagian dari satu kolom abu bisa mengikuti jalur yang berbeda. Bagian yang berada lebih rendah dapat terbawa menuju wilayah daratan, sementara material yang mencapai lapisan lebih tinggi bisa terdorong ke arah laut.
Jadi, ketika warga melihat angin di permukaan bergerak menuju satu arah, kondisi tersebut belum cukup untuk memperkirakan ke mana seluruh abu akan bergerak.
Abu Mengikuti Udara di Tempat Ia Berada
Abu vulkanik pada dasarnya terbawa oleh arus udara. Karena atmosfer memiliki lapisan dengan kondisi angin yang berbeda, material yang berada pada ketinggian berbeda dapat memiliki jalur perjalanan yang berbeda pula.
Data VAAC Darwin juga menunjukkan pola tersebut. Dalam salah satu advisory 6 September, abu Anak Krakatau terpantau hingga FL500 atau sekitar 50.000 kaki bergerak ke barat, sementara abu pada lapisan hingga FL200 bergerak ke timur. Pada pembaruan berikutnya, arah dan ketinggian sebaran kembali berubah mengikuti kondisi atmosfer.

Baca selengkapnya
Inilah alasan abu dapat terlihat menjangkau wilayah daratan seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu, sementara sebagian material pada lapisan lain bergerak menjauh ke Samudra Hindia. BMKG pada 6 September bahkan mengidentifikasi dua klaster sebaran abu yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Jadi Abu yang Sampai Jakarta Berasal dari Mana?
Pertanyaan berikutnya justru lebih menarik: lapisan abu mana yang membawa material ke masing-masing wilayah?

Baca selengkapnya
Jawabannya tidak cukup hanya dengan melihat arah angin di permukaan. Perlu dicocokkan antara ketinggian kolom abu, profil angin vertikal, citra satelit, serta waktu terjadinya erupsi.
Itulah sebabnya BMKG menggunakan citra Himawari-9 dan menerbitkan SIGMET untuk memantau pergerakan abu di ruang udara. Pada 6 September, BMKG telah menerbitkan 18 SIGMET terkait sebaran abu Anak Krakatau.
Dengan kata lain, abu Anak Krakatau tidak punya satu arah perjalanan. Ada material yang terbawa menuju daratan, ada pula yang bergerak ke laut, tergantung pada lapisan atmosfer yang membawanya.
Dan di situlah kunci membaca peta sebaran abu: jangan hanya melihat ke mana angin bertiup di permukaan, tetapi juga ke mana angin bergerak pada ketinggian tempat abu tersebut berada.
Komentar