Frame Daily, Tangerang - Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak langsung terhadap penerbangan internasional dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Kementerian Perhubungan mencatat sedikitnya 16 penerbangan internasional dibatalkan setelah sebaran abu vulkanik terdeteksi dan operasional bandara harus dihentikan sementara pada Minggu (6/9/2026) dini hari.
Gangguan tersebut menjadi bagian dari total 33 penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta yang terdampak aktivitas erupsi Anak Krakatau. Selain pembatalan, sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan, penjadwalan ulang, hingga pengalihan rute sebagai bagian dari penyesuaian operasional untuk menjaga keselamatan penerbangan.
16 Penerbangan Internasional Dibatalkan
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat 16 penerbangan internasional dibatalkan akibat kondisi tersebut. Selain itu, tujuh penerbangan mengalami keterlambatan dan lima penerbangan lainnya dijadwalkan ulang.
Sejumlah rute internasional yang terdampak mencakup penerbangan menuju dan dari Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul atau Incheon, Doha, Amsterdam, serta Kuala Lumpur. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa dampak erupsi tidak hanya dirasakan pada penerbangan domestik, tetapi juga mengganggu konektivitas internasional dari salah satu pintu utama penerbangan Indonesia.
Kemenhub menyatakan penyesuaian jadwal dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi operasional bandara dan perkembangan sebaran abu vulkanik. Maskapai juga perlu menyesuaikan rotasi pesawat serta ketersediaan armada akibat adanya penerbangan yang tertunda atau dibatalkan.
Abu Vulkanik Terdeteksi di Bandara Soetta
Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta dilakukan berdasarkan NOTAM A3341/26. Bandara dijadwalkan ditutup mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB karena adanya indikasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di wilayah sekitar bandara.
Sebelumnya, pemantauan terhadap sebaran abu vulkanik telah dilakukan secara intensif. Pada malam hari, Kemenhub masih menyatakan operasional Bandara Soekarno-Hatta berjalan normal karena hasil pengamatan awal belum menunjukkan adanya abu vulkanik di area bandara.
Namun, kondisi kemudian berubah setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan paper test pada Minggu dini hari. Pemeriksaan pada pukul 00.35 hingga 01.05 WIB menunjukkan indikasi adanya abu vulkanik sehingga keputusan penutupan sementara diambil sebagai langkah keselamatan.
Keselamatan Jadi Prioritas Utama
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa menegaskan aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan operasional penerbangan. Penyesuaian jadwal dilakukan secara dinamis berdasarkan hasil pemantauan kondisi abu vulkanik dan perkembangan aktivitas erupsi.
Kemenhub juga terus berkoordinasi dengan pengelola bandara, maskapai penerbangan, penyelenggara navigasi penerbangan, serta BMKG. Koordinasi tersebut diperlukan untuk menentukan langkah operasional berikutnya sekaligus mengantisipasi dampak berantai terhadap jadwal penerbangan.
Dampak berantai dapat terjadi ketika satu penerbangan mengalami keterlambatan atau pembatalan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya, hingga kapasitas terminal apabila terjadi penumpukan penumpang.

Penumpang Diminta Pantau Informasi Maskapai
Dengan kondisi penerbangan yang masih dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik, penumpang diminta tidak hanya mengandalkan jadwal awal yang tertera pada tiket. Kemenhub mengimbau calon penumpang memantau informasi terbaru dari maskapai sebelum menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Penumpang yang penerbangannya terdampak juga perlu memperhatikan informasi mengenai pembatalan, keterlambatan, perubahan jadwal, maupun kemungkinan pengalihan penerbangan. Kebijakan lanjutan terkait tiket dan perjalanan mengikuti ketentuan masing-masing maskapai.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Bandara Soekarno-Hatta merupakan salah satu simpul penerbangan internasional utama Indonesia. Setiap gangguan operasional di bandara berpotensi memberikan efek domino terhadap penerbangan domestik maupun internasional yang menggunakan pesawat dan jaringan rute yang sama.
Aktivitas Anak Krakatau Masih Dipantau
Gangguan penerbangan ini berkaitan dengan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Badan Geologi mencatat erupsi menerus kembali terjadi pada 5 September 2026 mulai pukul 23.07 WIB dan masih berlangsung hingga pengamatan dini hari. Aktivitas tersebut disertai material pijar, lava dan abu vulkanik.
Badan Geologi sebelumnya menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api karena masih terdapat potensi bahaya dari material vulkanik.
Pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan erupsi, termasuk potensi sebaran abu vulkanik yang dapat memengaruhi wilayah udara. Informasi resmi mengenai kondisi penerbangan dan aktivitas gunung api menjadi rujukan utama bagi masyarakat agar tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.
Komentar